Mitigasi El Nino, Kementan percepat pompanisasi dan optimalisasi lahan rawa
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menetapkan periode April-Juni 2026 sebagai masa kritis untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional.

Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat langkah mitigasi guna menghadapi potensi fenomena El Nino melalui implementasi lima strategi utama. Langkah ini difokuskan pada periode kritis April hingga Juni 2026 untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa peringatan dini dari BMKG mengenai El Nino harus disikapi dengan percepatan tindakan di lapangan agar ketersediaan pangan tetap terjaga.
“Sesuai dengan peringatan dari BMKG bahwasanya ada El Nino, ini cukup mengkhawatirkan. Ini perlu kita melakukan langkah-langkah strategis dan percepatan,” kata Amran dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026).
Di tengah ancaman iklim tersebut, Amran mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang berhasil menjaga stok pangan nasional tetap aman.
“Kepada teman-teman Saya ucapkan terima kasih, sekarang ini capaian kita, stok kita hari ini 4,4 juta ton, insya Allah bulan ini bisa mencapai 5 juta ton. Ini berkat kerja keras kita semua,” ungkapnya.
Untuk menghadapi tantangan kekeringan, Kementerian Pertanian (Kementan) telah memetakan lima langkah strategis:
* Pemetaan Wilayah Rawan: Memperkuat sistem peringatan dini (early warning system) agar antisipasi lebih tepat sasaran.
* Optimasi Air: Rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, serta penguatan irigasi perpompaan dan sistem perpipaan.
* Percepatan Tanam: Mendorong wilayah dengan potensi air (khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat) untuk segera menanam varietas unggul tahan kekeringan.
* Pemanfaatan Lahan: Mengoptimalkan lahan rawa dan cetak sawah baru agar segera ditanami tanpa jeda.
* Sinergi Lintas Sektor: Memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, TNI, hingga penyuluh lapangan.
Mentan menginstruksikan agar seluruh instrumen, mulai dari optimalisasi lahan (oplah) rawa hingga sumur dalam, segera digerakkan.
”Kita manfaatkan masih ada musim hujan khususnya Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat. Tolong dilakukan percepatan daerah-daerah yang masih ada hujan. Kemudian oplah lahan rawa dipercepat, cetak sawah yang sudah dibangun segera tanam, pompanisasi dan irpom digerakkan,” jelasnya.
Guna mendukung percepatan ini, Mentan Amran meminta pemerintah daerah di seluruh Indonesia bersikap proaktif dalam mengusulkan kebutuhan sarana prasarana air secara daring.
”Bahkan daerah seluruh Indonesia yang masih butuh irpom segera usulkan sekarang via online. Kepala Dinas usulkan cepat agar kita bisa geser anggaran. Yang butuh pompa tolong pantau,” terangnya.
Amran menekankan bahwa keberhasilan swasembada pangan berkelanjutan sangat bergantung pada efektivitas kerja dalam tiga bulan ke depan. Periode ini menjadi titik penentu apakah target produksi tahunan dapat tercapai di tengah tantangan iklim.
“Yang menentukan April-Juni. Kalau target lolos, insya Allah swasembada pangan ini berkelanjutan. Yang jadi critical point April, Mei, Juni,” tegas Amran.
Menutup arahannya, Mentan optimistis kolaborasi solid antara pemerintah, TNI, dan petani akan mampu membawa Indonesia melewati krisis ekonomi dunia melalui penguatan sektor pertanian.
“Saya percaya swasembada tercapai karena kalian semua. Ini kerja keras kita semua. Ini kebanggaan di saat krisis kondisi ekonomi dunia, pertanian tampil untuk mitigasi risiko, menstabilkan pangan, meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkasnya.
Awaluddin M/Rama




