Muradi: China-Rusia tak akan satu barisan dengan AS dalam konflik Iran
Muradi menilai Beijing dan Moskow akan mendukung Iran secara tidak terbuka sambil menjaga jarak dari Washington.

Ilustrasi: Antara
Ilustrasi: Antara
Guru Besar Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran, Muradi, menilai China dan Rusia tidak akan berada dalam satu barisan dengan Amerika Serikat dalam konflik Iran.
Menurutnya, dalam perspektif global, kedua negara tersebut memiliki kepentingan untuk tidak sejalan dengan langkah politik luar negeri AS.
“Dalam perspektif global, mereka yang penting tidak berada dalam barisan yang sama dengan US. Itu rumus penting,” ujar Muradi saat diwawancarai Radio Elshinta, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, China dan Rusia kemungkinan tetap memberi dukungan kepada Iran, tetapi tidak secara terbuka. Sikap Iran yang dinilai defensif, yakni merespons ketika diserang, membuatnya mendapatkan simpati internasional.
Muradi juga menyinggung pengalaman konflik sebelumnya, di mana Iran dinilai mampu memainkan diplomasi perang dengan cukup efektif.
“Kalau apakah China akan bantu, saya pasti mereka akan bantu tapi tidak terbuka. Rusia bantu tapi tidak terbuka,” katanya.
Menurut Muradi, kedua negara itu melihat rezim pemerintahan Iran relatif lebih solid dibanding Libya, Irak, maupun Suriah. Karena itu, dukungan cenderung diberikan secara hati-hati tanpa konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.
Ia menilai dinamika ini menunjukkan peta kekuatan global bergerak penuh perhitungan. Selama konflik belum meluas dan belum mengubah keseimbangan strategis secara besar, China dan Rusia diperkirakan tetap memilih jalur dukungan tidak langsung sambil menjaga posisi geopolitiknya.
Stefi Anastasia/Rama




