Pakar: Syarat mediator perang Iran vs Amerika-Israel harus netral, peran Prabowo dinilai tidak realistis
Pakar konflik menilai mediator harus netral dan dipercaya semua pihak dalam konflik Iran-Israel.

Sumber foto: Antara
Sumber foto: Antara
Pakar psikologi konflik dari Program Peace and Conflict Resolution Universitas Pertahanan RI, Ichsan Malik, menilai wacana Presiden Prabowo Subianto menjadi mediator konflik Iran-Israel conflict kurang realistis. Menurutnya, seorang mediator harus berada dalam posisi netral dan dipercaya oleh semua pihak yang terlibat.
Ichsan mengatakan, dalam prinsip resolusi konflik internasional, mediator harus bertindak sebagai pihak ketiga yang imparsial. Tanpa posisi tersebut, proses mediasi berpotensi tidak efektif karena salah satu pihak dapat meragukan objektivitas mediator.
“Itu yang pertama kalau meminta penghentian kekerasan. Kemudian kalau untuk menjadi mediator itu sebetulnya tidak realistis, karena syarat mediator harus pihak ketiga yang netral, imparsial, dan dipercaya semua pihak. Nah, posisi Pak Prabowo sudah tidak netral karena dia bagian dari BOP, sementara aktor utama BOP yang menyerang Iran yaitu Amerika dan Israel,” ujar Ichsan saat diwawancarai Radio Elshinta, Selasa (10/2/2026).
Meski demikian, Ichsan menilai seruan penghentian kekerasan tetap merupakan langkah positif dalam upaya meredakan konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
“Iya, jadi pertama saya kira kalau niatnya memang mendamaikan, itu saya kira ya bagus-bagus aja. Tapi kita kan lihat bahwa misalnya dia ingin meminta penghentian kekerasan, misalnya ya. Artinya stop peperangan itu. Tapi itu harus both sides, harus dua belah pihak. Artinya ke Iran dan juga ke Israel dan Amerika karena mereka yang menyerang,” terang Ichsan.
Menurutnya, upaya diplomasi untuk meredakan konflik tetap penting dilakukan. Namun langkah tersebut perlu mempertimbangkan posisi serta tingkat kepercayaan dari seluruh pihak yang terlibat.
Ia menambahkan, pendekatan yang lebih realistis adalah mendorong penghentian kekerasan dan dialog damai melalui mekanisme internasional yang dinilai lebih netral serta dapat diterima semua pihak.
Stefi Anastasia/Mgg/Rama




