PLN Indonesia Power dorong pengembangan PLTN untuk percepat transisi energi
PLTN direncanakan berkapasitas 250–500 MW dan ditargetkan beroperasi pada 2032–2034 sebagai bagian strategi transisi energi nasional.

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi salah satu strategi penting dalam transisi energi Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Hal itu disampaikan Corporate Secretary PLN Indonesia Power, Agung Siswanto, dalam acara berbuka puasa bersama media di Jakarta.
Menurut Agung, pengembangan PLTN menjadi bagian dari langkah strategis PLN (Persero) dan PLN Indonesia Power dalam menekan emisi karbon di sektor ketenagalistrikan.
Ia menjelaskan, untuk mencapai target NZE 2060, PLN Indonesia Power menyiapkan dua strategi utama.
Pertama, mengembangkan pembangkit baru dengan emisi sangat rendah, terutama berbasis energi baru terbarukan.
Kedua, meningkatkan teknologi pembangkit yang sudah ada agar emisi yang dihasilkan dapat ditekan.
Melalui dua pendekatan tersebut, perusahaan menyusun program jangka pendek, menengah, dan panjang untuk mendukung transisi energi nasional.
Salah satu program strategis adalah rencana pembangunan PLTN pertama dengan kapasitas sekitar 250 hingga 500 megawatt yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2032 hingga 2034.
“PLTN ini direncanakan berlokasi di Kalimantan dan telah masuk dalam RUPTL PLN 2025–2034 sebagai bagian dari upaya transisi energi,” kata Agung, dalam keterangan tertulis, Selasa (10/3/2026).
Ia menambahkan, proyek tersebut membuka peluang kerja sama dengan sejumlah negara yang telah menawarkan teknologi nuklir.
“Beberapa negara seperti Kanada, Korea, dan Amerika Serikat telah menawarkan teknologi, namun saat ini masih dalam tahap kajian,” ujarnya.
Selain PLTN, PLN Indonesia Power juga menargetkan pengembangan energi baru terbarukan sebesar 2,4 gigawatt melalui proyek Hijaunesia dan Hydronesia, yang didominasi pembangkit listrik tenaga surya dan tenaga air.
Menurut Agung, PLTN memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara stabil sebagai baseload, serta hampir tidak menghasilkan emisi karbon.
Namun demikian, ia menekankan bahwa pengembangan teknologi ini membutuhkan dukungan dan partisipasi masyarakat.
“Sosialisasi kepada masyarakat sangat penting agar pengembangan teknologi energi baru, termasuk PLTN, dapat berjalan optimal,” pungkasnya.
Vivi Trisnavia/Rama




