Top
Begin typing your search above and press return to search.

Stok BBM disebut 20 hari, Guru Besar Komunikasi Politik nilai komunikasi pemerintah lemah

Pernyataan Menteri ESDM soal stok BBM hanya 20 hari memicu kekhawatiran publik. Guru Besar Komunikasi Politik menilai polemik ini menunjukkan lemahnya komunikasi pemerintah dalam menyampaikan isu sensitif kepada masyarakat.

Stok BBM disebut 20 hari, Guru Besar Komunikasi Politik nilai komunikasi pemerintah lemah
X

Elshinta.com

Pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengenai stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang disebut hanya cukup untuk 20 hari dinilai menuai kekhawatiran publik.

Guru Besar Komunikasi Politik London School of Public Relations Institute, Lely Arrianie, menilai polemik tersebut mencerminkan lemahnya komunikasi pemerintah dalam menyampaikan informasi sensitif kepada masyarakat.

Dalam wawancara edisi siang Radio Elshinta, Jumat (6/3/2026), Lely mengatakan penyampaian informasi yang tidak utuh dapat memicu kekhawatiran publik.

“Ketika pejabat menyebut angka stok BBM hanya 20 hari di tengah isu perang global, masyarakat tentu bisa menafsirkan itu sebagai ancaman krisis energi. Di sinilah pentingnya komunikasi yang jelas dan utuh,” kata Lely.

Sebelumnya, Bahlil menjelaskan angka 20 hari bukan berarti Indonesia berada dalam kondisi darurat energi. Menurutnya, angka tersebut merujuk pada kapasitas penyimpanan cadangan BBM nasional, bukan sisa stok yang tersedia.

Meski demikian, pernyataan tersebut sempat memicu reaksi masyarakat. Di Banda Aceh, misalnya, antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) setelah muncul kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan BBM di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Lely, komunikasi pejabat publik seharusnya dirancang secara matang agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan salah tafsir.

“Komunikasi publik tidak cukup hanya benar secara data, tetapi juga harus mempertimbangkan psikologi masyarakat. Tanpa empati, pesan teknis bisa berubah menjadi sumber kepanikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah perlu memperkuat koordinasi tim komunikasi sebelum menyampaikan informasi sensitif kepada publik. Komunikasi yang terencana, kata dia, dapat mencegah kesalahpahaman sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

“Komunikasi yang baik tidak hanya soal bagaimana menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana memahami situasi masyarakat yang menerima pesan tersebut,” kata Lely.

Ayesha Julia Putri/Rama

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire