Wamenhaj: Diklat semimiliter bangun nilai kedisiplinan petugas haji

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menekankan bahwa pendidikan dan pelatihan (diklat) calon petugas haji tahun 2026 yang dilaksanakan secara semimiliter memang ditujukan untuk membangun nilai kedisiplinan, bukan hanya sekadar melatih fisik.
Usai memimpin apel pagi dan lari bersama peserta diklat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu pagi, Dahnil mengungkapkan ada transformasi persepsi yang signifikan dari para peserta setelah sepekan ditempa oleh personel dari TNI dan Polri.
Ia mengakui bahwa sebelumnya pada minggu pertama, banyak peserta yang merasa skeptis bahkan mencibir metode pelatihan yang dianggap tidak relevan.
"Di awalnya mereka itu mencibir, mungkin wartawan juga begitu. Berpikir ini militerisme, ngapain sih Kementerian Haji dan Umrah semimiliter? Tapi faktanya, setelah satu minggu mereka lalui, yang mereka temukan justru kegembiraan," ujar Dahnil.
Kemenhaj melakukan terobosan baru dalam persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para calon petugas haji menjalani pelatihan dengan metode semimiliter yang ketat. Dahnil menegaskan bahwa metode tersebut bukan bertujuan untuk menanamkan militerisme, melainkan untuk membangun kedisiplinan, kekompakan, dan kegembiraan di antara para petugas.
Ia menekankan istilah military phobia atau ketakutan berlebih terhadap hal-hal berbau militer harus dihilangkan. Menurutnya, ada nilai-nilai positif dari komunitas militer, seperti kedisiplinan dan struktur komando yang rapi, yang perlu diadopsi untuk diterapkan dalam manajemen pelayanan publik. Ia memastikan bahwa pelatihan ini terukur dan seimbang.
"Yang menakutkan yang mereka bayangkan itu tidak mereka temukan. Yang ditemukan adalah kedisiplinan dan kekompakan. Jadi, jangan sampai ada military phobia. Ini adalah simbolisasi manusia terbuka," kata Dahnil.
Meskipun fisik calon petugas haji digembleng melalui lari berjenjang mulai dari 5 kilometer hingga 7 kilometer, Dahnil memastikan aspek intelektual dan spiritual tidak dikesampingkan. Pelatihan fisik hanyalah satu bagian dari kurikulum. Setiap pagi, siang, dan malam, para calon petugas tetap menerima materi intensif mengenai bahasa Arab, fikih haji, dan manajemen perhajian. Keseimbangan inilah yang menjadi kunci.
Hasil dari pelatihan satu minggu ini dinilai sangat memuaskan. Dahnil menyatakan tidak ada keraguan sedikitpun terhadap kemampuan para peserta. Ia melihat optimisme bahwa angkatan ini akan sangat membantu tugas penyelenggaraan haji di Arab Saudi nanti.
"Progresnya terlihat kompak, disiplin, gembira. Kalau tidak gembira, tidak akan muncul keikhlasan untuk melayani jamaah haji. Ini adalah kali pertama petugas digembleng seserius ini," ujar Dahnil.
Dengan metode tersebut, diharapkan para petugas tidak hanya siap secara pengetahuan manasik, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan fisik yang prima untuk menghadapi tantangan berat di Tanah Suci.




