Zurich mulai terima klaim asuransi umrah imbas perang di Timur Tengah

(Dari kiri ke kanan) Direktur Utama PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah) Hilman Simanjuntak, Direktur PT Zurich Topas Life (Zurich Life) Fred Chan, Country Manager Zurich Indonesia & Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Edhi Tjahja Negara, dan pengamat ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menghadiri One Zurich Iftar 2026 di Jakarta, Senin (9/3/2026). ANTARA/Uyu Septiyati Liman
(Dari kiri ke kanan) Direktur Utama PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah) Hilman Simanjuntak, Direktur PT Zurich Topas Life (Zurich Life) Fred Chan, Country Manager Zurich Indonesia & Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Edhi Tjahja Negara, dan pengamat ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menghadiri One Zurich Iftar 2026 di Jakarta, Senin (9/3/2026). ANTARA/Uyu Septiyati Liman
Direktur Utama PT Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah) Hilman Simanjuntak menyatakan bahwa pihaknya mulai menerima pengajuan klaim asuransi perjalanan dari jemaah umrah Indonesia yang terdampak Perang AS-Israel dan Iran.
"Dari sisi klaim kami sudah mendapatkan beberapa laporan masuk dari nasabah-nasabah kami yang terdampak dari kejadian di Timur Tengah," kata Hilman seusai menghadiri One Zurich Iftar 2026 di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Ia menuturkan penyebab klaim tersebut utamanya karena nasabah batal berangkat ibadah umrah akibat memanasnya kondisi keamanan di wilayah Timur Tengah. Adanya travel warning (peringatan perjalanan) untuk tidak mengunjungi kawasan tersebut membuat sejumlah jemaah menjadwalkan ulang atau bahkan membatalkan rencana mereka untuk beribadah di Tanah Suci.
Namun, ia belum dapat menyebutkan secara rinci jumlah klaim yang masuk hingga saat ini karena perseroan masih melakukan proses pendataan dan pengajuan klaim diprediksi masih akan bertambah seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian meluas.
Guna mengantisipasi lonjakan klaim yang berpotensi terus meningkat serta menunjukkan komitmen perseroan untuk membantu nasabah di tengah situasi darurat, Hilman menginstruksikan jajarannya untuk mempercepat waktu respons.
"Tentunya, proses klaim itu akan berjalan sesuai dengan ketentuan polis yang berlaku dan tim klaim itu selalu merespon dengan cepat, terutama dalam kondisi seperti ini," ujarnya.
Terkait dampak dari perang terhadap bisnis perusahaan, ia mengatakan adanya potensi penurunan permintaan terhadap produk asuransi perjalanan.
"Saya cukup yakin akan ada beberapa (jemaah umrah) yang merasa ini bukan waktunya untuk melakukan perjalanan umrah, which is (yang mana) sangat reasonable (masuk akal). Jadi, ya mungkin akan ada dampaknya sedikit turun, mungkin saja, tapi kami belum bisa lihat saat ini," ucap Hilman.
Dalam kesempatan yang sama, pengamat ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai bahwa perang AS-Israel dan Iran dapat mendorong peningkatan permintaan terhadap asuransi marine cargo guna mengatasi besarnya risiko dalam proses pengiriman logistik (shipping).
Ia menyatakan situasi genting di perairan internasional tersebut, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia, menuntut banyak perusahaan ekspedisi untuk memperkuat proteksi kargo mereka.
Selain itu, ia menyoroti bahwa dampak dari ketegangan geopolitik dan guncangan ekonomi global saat ini juga dapat mendorong peningkatan inflasi medis. Hal tersebut disebabkan oleh melonjaknya harga obat dan peralatan kesehatan yang sebagian besar diimpor dari luar negeri sehingga mendorong terjadinya imported inflation.
Ia pun menyarankan masyarakat untuk memiliki asuransi kesehatan guna mengantisipasi dampak dari ketidakpastian ekonomi tersebut.
"Masyarakat yang awareness-nya (tidak kesadarannya) tinggi, dia akan mempertebal (manfaat) dari produk insurance-nya (asuransinya) karena uncertainty (ketidakpastian) itu," tutur Nailul.




