Bangkit pascabencana, Senator Irman Gusman inisiasi seminar ekonomi
Senator RI Asal Sumatera Barat (Sumbar) Irman Gusman berkomitmen penuh dalam memperhatikan ekonomi Sumbar terlebih pascabencana. Perhatian penuh terhadap ekonomi Sumbar agar segera pulih, mengingat kebutuhan yang diperlukan cukup besar.

Sumber foto: Musthofa/elshinta.com.
Sumber foto: Musthofa/elshinta.com.
Senator RI Asal Sumatera Barat (Sumbar) Irman Gusman berkomitmen penuh dalam memperhatikan ekonomi Sumbar terlebih pascabencana. Perhatian penuh terhadap ekonomi Sumbar agar segera pulih, mengingat kebutuhan yang diperlukan cukup besar.
Irman Gusman menginisiasi Seminar dengan harapan Sumbar bisa segera pulih pascabencana akhir November 2026. Untuk itu, fokus utama Seminar tema Membangkitkan ekonomi Sumbar Pascabencana : Strategi Pemulihan, Ketahanan dan Transformasi Ekonomi Berkelanjutan.
Mengupas tema Seminar, sejumlah narasumber terlibat yaitu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappada) Provinsi Sumbar, Zefnihan, Deputi Kepala Perwakilan BI Sumbar, Andy Setyo Biwado, Kepala Kantor Wilayah DJPb Provinsi Sumbar, M. Dody Fachrudin, Pakar/Akademisi Ekonomi, Universitas Andalas (Unand) Padang, Syahfruddi Kirimi dan Ketua Umum Kadin Provinsi Sumbar, Buchari Bachter.
Irman Gusman berharap, seminar ini menjadi momentum untuk kebangkitan ekonomi Sumbar Pascabencana.
"Umumnya dibeberapa tempat, pasca bencana pasti ada hikmah dibalik bencana. Pascabencana Gempa 2009 di Sumbar, masa rehabilitasi banyak proyek proyek sehingga mengakibatkan ekonomi Sumbar tumbuh signifikan," sebut Irman yang bertindak sebagai pembicara kunci (keynote speaker) Rabu (1/4).
Hal yang sama disampaikan Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, percepatan pemulihan membutuhkan koordinasi untuk sinergi dan dukungan dari Pemerintah Pusat, khususnya dalam hal kebijakan fiskal, dukungan anggaran, relaksasi pembiayaan, serta stimulus bagi pelaku UMKM dan sektor produktif lainnya.
Ketua Pelaksana, Firdaus Abdul Djalil mengatakan, sepanjang tahun 2024 hingga 2025 dilanda bencana yang tidak hanya menyisakan duka secara fisik tetapi juga memberikan guncangan signifikan terhadap urat nadi perekonomian masyarakat Sumbar.
Dari rentetan bencana tersebut, pertumbuhan ekonomi Sumbar terkoreksi hingga menyentuh angka 3,37% pada tahun 2025, dengan total kerugian ekonomi yang diestimasi mencapai Rp 33,5 triliun.
"Angka ini jauh melampaui kapasitas fiskal daerah kita. Kondisi ini menuntut kita untuk tidak hanya sekedar reaktif, melainkan harus merumuskan strategi pemulihan yang transformatif," ujar Firdaus seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Musthofa, Rabu (1/4).
Ia berharap seminar ini hadir sebagai forum strategis untuk menjembatani perspektif pengambil kebijakan, akademis, dan dunia usaha untuk memperkuat sinergitas demi membangun ekonomi yang lebih tangguh atau disaster-resilient economy.
Dari kegiatan seminar ini mampu menjadi pilar pergerakan ke depan, Ketahanan / Resilience Membangun Sistem ekonomi yang tidak hanya kuat saat situasi normal, tetapi juga lentur dan tahan banting saat menghadapi guncangan di masa depan.
Transformasi Berkelanjutan yaitu, tidak ingin sekedar kembali ke titik sebelum bencana, tetapi harus mampu melompat lebih tinggi dengan mengintegrasikan teknologi, manajemen risiko dan kelestarian lingkungan dalam setiap kebijakan ekonomi dengan sinergitas yang lebih kuat.
Menghasilkan Policy Paper yang dapat menjadi acuan konkret bagi Pemerintah Daerah dalam agenda pemulihan ekonomi Sumatera Barat 2025-2030.




