Bank Indonesia optimistis rupiah akan menguat secara fundamental
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis bahwa nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental didukung oleh inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang membaik, imbal hasil investasi yang menarik, serta komitmen BI untuk menstabilkan rupiah.

Sumber foto: Antara/elshinta.com
Sumber foto: Antara/elshinta.com
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis bahwa nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental didukung oleh inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang membaik, imbal hasil investasi yang menarik, serta komitmen BI untuk menstabilkan rupiah.
“Tekanan inflasi (kenaikan nilai tukar) rupiah sekarang adalah faktor-faktor technical (teknis) karena ketidakpastian global yang meningkat, dan ke depan kami meyakini (nilai tukar rupiah) akan menguat secara fundamental,” kata Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa.
Ia menyatakan, faktor-faktor yang memengaruhi nilai tukar rupiah saat ini adalah faktor jangka pendek, salah satunya inflasi ekonomi yang terjadi karena kenaikan harga pangan atau volatile food.
Ia menuturkan, hal tersebut terjadi karena adanya cuaca ekstrem serta bencana alam yang berdampak terhadap distribusi komoditas pangan.
“Inflasi (ekonomi) yang meningkat sekarang adalah bukan inflasi fundamental. Inflasi fundamental itu inflasi inti. Inflasi yang sekarang meningkat karena memang faktor-faktor jangka pendek karena berhubungan dengan kenaikan harga pangan,” jelas Perry.
Ia mengatakan, inflasi inti terjaga rendah sebesar 2,38 persen year-on-year (yoy), di bawah titik tengah sasaran 2,5 plus minus 1 persen.
Ia menyampaikan, hal tersebut menunjukkan bahwa kapasitas ekonomi Indonesia masih jauh lebih besar dari realisasi pertumbuhan ekonomi nasional yang pada triwulan III 2025 tercatat sebesar 5,04 persen yoy.
“Bank Indonesia memperkirakan bahwa kapasitas produksi nasional kita itu untuk 2 tahun ke depan antara 5,8 sampai 6,2 persen. Nah, dengan pertumbuhan yang masih di bawah 5,8 sampai 6,2 persen itu menunjukkan kenapa inflasi inti kita rendah,” ujarnya.
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tingkat inflasi, serta pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia telah menurunkan BI-Rate sebanyak 5 kali sejak September 2024 menjadi 4,75 persen, sekaligus tetap membuka peluang adanya penurunan suku bunga lebih lanjut.
Perry mengatakan, pihaknya juga terus melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, termasuk di Asia, Eropa, dan Amerika. Selain itu, BI pun melakukan intervensi di pasar tunai, spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri.
Selain itu, khusus terkait inflasi pangan, ia menyatakan pihaknya juga memperkuat sinergi dan koordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pangan (TPIP).
“Dengan demikian, kebijakan fiskal dan moneter tetap bisa menjaga stabilitas dan terus mendorong pertumbuhan ekonomi,” imbuh Perry Warjiyo.




