BPPTU Jatiwangi - DKPP Jabar, sebar 100 ribu doc ayam sentul di Jawa barat
UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas (BPPTU) Jatiwangi, DKPP Jawa Barat terus melakukan berbagai upaya dan terobosan guna lestarinya Ayam Sentul yang dikembangkan di BPPTU Jatiwangi.

Sumber foto: Enok Carsinah/elshinta.com.
Sumber foto: Enok Carsinah/elshinta.com.
UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas (BPPTU) Jatiwangi, DKPP Jawa Barat terus melakukan berbagai upaya dan terobosan guna lestarinya Ayam Sentul yang dikembangkan di BPPTU Jatiwangi.
Salah satunya Balai telah menyebar 100 ribu doc ayam Sentul kepada 140 kelompok di Jawa Barat, dan diharapkan peternak di setiap kelompok berkomitmen melakukan pemeliharaan sesuai MoU yang telah disepakati dengan pihak balai.
"Ratusan ribu doc yang disebarkan kepada 140 kelompok sebagai langkah dari BPPTU Jatiwangi untuk melestarikan populasi ayam Sentul sebagai ayam lokal sekaligus memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat khususnya kelompok ternak di Jawa Barat," ujar Ahmad Gufron, Minggu (22/2/2026)
Namun demikian menurut Gufron. Mayoritas peternak mengaku terkendala dengan pakan yang dianggap memberatkan, sehingga balai terus melakukan kajian untuk solusi pakan ayam Sentul dengan alternatif pakan diluar pakan pabrikan
"Kita telah melakukan kajian, agar para peternak tidak merasa berat di pakan, karena dalam pemeliharaan ayam Sentul ini, banyak yang terbentur dari pemeliharaan (pakan). Karena 60 sampai 70 persen biaya operasional itu ada di pakan," demikian dikatakan Kepala UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas (BPPTU) Jatiwangi, DKPP Jawa Barat Ahmad Gufron, S.Pt, M.Si, Minggu, (22/2/2026).
Ahmad Gufron menyebut, Balai telah menerapkan konsep ekonomi sirkular untuk pakan ayam, berfokus pada pengurangan limbah dan efisiensi sumber daya dengan mengubah limbah organik (sisa dapur, pertanian, industri makanan) menjadi pakan bernutrisi.
Tahun 2023 balai telah me-modelkan, menguji pengelolaan limbah peternakan kemudian memanfaatkan limbah peternakan tersebut kembali menjadi bahan pakan
"Awalnya kami mengkaji mulai dari sini, di peternakan ini ada 3 limbah yang diproduksi di balai. Yang pertama kotoran ayamnya, kedua telur-telur yang tidak jadi menetas, ketiga bangkai bangkai ayam, Bagaimana kami memanfaatkan limbah limbah itu. Bangkai akan jadi magot, sisa magotnya untuk azola dan pupuk," paparnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Enok Carsinah, Jumat (27/2).
Sementara tahun 2024 hingga tahun 2025, balai mulai menggunakan hijauan untuk pakan unggas dengan uji coba jenis rumput seperti sorgum yang bisa dimanfaatkan baik daun maupun batangnya. Dan tahun 2026 balai juga sudah melakukan uji coba terhadap sacha inchi, dimana limbahnya bisa dimanfaatkan untuk pakan.
"Dan saat ini kami akan mengembangkan untuk Sacha inchi, budidayanya tahun ini dan kami tidak menggunakan pupuk-pupuk un organik, tapi hanya menggunakan limbah yang ada untuk Sasha inchi," terangnya.
'Kalau sudah tinggal paket teknologi tersebut diberikan ke masyarakat, dan kita ingin me-masifikan lagi model-model ekonomi sirkular ayam Sentul." Pungkasnya.




