Bupati Sampang serukan sinergi Madura untuk wujudkan KEK Tembakau
Bupati Sampang serukan sinergi Madura untuk wujudkan KEK Tembakau

Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Komunitas Muda Madura (KAMURA) kembali melanjutkan inisiatif besar penyusunan Naskah Akademik Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura melalui penyelenggaraan Seminar Nasional dan Focus Group Discussion (FGD) di Politeknik Negeri Madura (POLTERA), Sampang. Acara ini merupakan titik penutup rangkaian FGD di Madura setelah sebelumnya digelar di Surabaya, Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep.
Seminar menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya Bupati Sampang H. Slamet Junaidi, Anggota DPR RI Eric Hermawan, Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Hamka, S.TP., M.Sc., M.P, Dinas Pertanian Sampang, HIPMI, ulama, perwakilan petani, BEM se-Sampang, serta ratusan mahasiswa POLTERA.
Dalam sambutannya, Bupati Sampang H. Slamet Junaidi menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif KAMURA untuk mendorong lahirnya KEK Tembakau Madura.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Saya hadir karena ingin mengetahui konsep KEK lebih dalam. KEK ini membutuhkan syarat-syarat yang panjang—lahan, infrastruktur, dan kesiapan banyak hal. Tetapi cita-cita bersama untuk menjadikan Madura mandiri secara ekonomi harus kita wujudkan,” ujarnya.
Bupati juga menyoroti kondisi aktual tembakau di Sampang. “Lahan tembakau kita tahun 2024 sekitar 8.700 hektare, dan di 2025 turun menjadi sekitar 3.800 hektare. Ini tantangan besar yang harus kita pikirkan bersama, mungkin melalui inovasi teknologi dan konsep baru,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa perubahan paradigma tentang Madura semakin menunjukkan betapa besar potensi industri tembakau rakyat.
“Dulu Madura dikenal sebagai Pulau Garam. Sekarang masyarakat luas mengenalnya sebagai Pulau Rokok Madura. Artinya, industri ini sudah menguatkan identitas ekonomi kita,” katanya.
Namun ia menegaskan bahwa perkembangan ekonomi tidak boleh menimbulkan ketimpangan sosial.
“Jangan sampai ada borjuis dan proletar terpisah jurang. Hulu-hilir harus sejahtera bersama. Tidak boleh ada ketimpangan. Semua harus menikmati hasilnya kalau Madura dijadikan KEK,” tegasnya.
Pada akhir sambutannya, ia menyampaikan komitmennya, “Saya akan menyertai perjuangan ini. Saya dan pemerintah siap mendukung. Insyaallah kabupaten lain juga akan mendukung, karena ekonomi Madura banyak ditopang industri rokok,” tutupnya.
Ketua Tim Penyusunan Naskah Akademik KEK Tembakau Madura, Subairi Muzakki, menegaskan bahwa momentum untuk Madura bangkit sedang berada pada titik terbaiknya.
“Hari ini kita melihat energi luar biasa. Ada bupati, anggota DPR RI, kampus, HIPMI, ulama, petani, mahasiswa—semua elemen Madura hadir. Ini bukti bahwa Madura ingin bergerak bersama,” ujar Subairi.
Menurutnya, Madura tidak boleh lagi menjadi penonton di tanahnya sendiri. Ia menambahkan bahwa industri tembakau rakyat adalah sektor yang terbukti nyata menopang perekonomian masyarakat.
“Di banyak titik, tumbuhnya pabrik rokok rakyat membuat kemiskinan ekstrem turun dan perputaran uang membaik. Ini bukan teori, tetapi bukti lapangan. Tembakau adalah kekuatan yang harus kita letakkan di pusat perencanaan,” ungkapnya.
Subairi menutup dengan penegasan yang lebih emosional, “Dukungan semua elemen Madura sangat dibutuhkan. Ini saatnya Madura bangkit lewat KEK Tembakau. Ini saatnya kita menuliskan sejarah baru ekonomi Madura,” pungkasnya.
Rangkaian FGD KAMURA di seluruh Madura menjadi fondasi utama penyusunan Naskah Akademik KEK Tembakau Madura yang akan diseminarkan di Jakarta pertengan Desember 2025.
KAMURA berharap dukungan lintas sektor yang menguat di Sampang menjadi pijakan konkret menuju terwujudnya KEK Tembakau Madura sebagai kawasan yang adil, inovatif, dan berkelanjutan.




