Cek proyek JJLS kelok-23 Bantul, legislator DIY soroti dampak lingkungan
Proyek Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) ruas Kretek–Girijati di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mencapai 89,317 persen. Proyek JJLS tersebut ditargetkan selesai pada Juli 2026 tahun ini.

Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.
Proyek Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) ruas Kretek–Girijati di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah mencapai 89,317 persen. Proyek JJLS tersebut ditargetkan selesai pada Juli 2026 tahun ini.
Memastikan proyek berjalan sesuai regulasi, Komisi C DPRD DIY mengecek langsung pembangunan JJLS ruas Kretek–Girijati di Kabupaten Bantul, pada Rabu (21/01/2026) .
"Pembangunan Kretek–Girijati tentu membawa dampak, salah satunya yang sebelumnya dirasakan oleh warga di dusun bawah terkait lumpur. Karena itu kami turun langsung untuk melihat dampak terhadap masyarakat serta memastikan pembangunan ini sesuai ketentuan, mulai dari kondisi lapangan hingga ketebalan aspal dan aspek teknis lainnya, " Ujar Sekretaris Komisi C DPRD DIY, Koeswanto.
Menurutnya, pembangunan JJLS harus berjalan sesuai ketentuan teknis, memperhatikan aspek keselamatan pengguna jalan, serta meminimalkan dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek nasional tersebut.
Sementara itu, anggota Komisi C, Aslam Ridlo, mengungkapkan terhadap pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan daya dukung lingkungan. Meskipun proyek JJLS menggunakan anggaran APBN sekitar Rp340 miliar, dampaknya terhadap masyarakat DIY sangat signifikan.
“Pembangunan ini membelah tebing sehingga tentu ada konsekuensi terhadap daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, keamanan dan keselamatan pemanfaatan jalan harus benar-benar menjadi prioritas,” katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Kamis (22/1).
Ia mendorong agar pemerintah daerah menyiapkan langkah-langkah simultan untuk mengantisipasi potensi penurunan daya dukung lingkungan saat JJLS mulai difungsikan. Ia juga berharap keberadaan JJLS, khususnya di titik Kelok 23 dan Jembatan Pandansimo, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui peningkatan aksesibilitas dan sektor pariwisata di wilayah Bantul dan Gunungkidul.
Pada kesempatan yang sama, koordinator lapangan PUPR, Keswandi, mengungkapkan bahwa progres pembangunan JJLS ruas Kretek–Girijati saat ini telah mencapai 89,317 persen. Sisa pekerjaan sekitar 11 persen meliputi pembangunan jembatan, pekerjaan bore pile, serta pengaspalan.
“Kendala utama saat ini adalah pemesanan girder jembatan dari Surabaya. Jika girder dapat segera datang, maka Juli sudah bisa dibuka, namun jika terlambat kemungkinan penyelesaian hingga Agustus 2026,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pembangunan JJLS di wilayah Kabupaten Bantul pada prinsipnya telah selesai 100 persen, sementara di wilayah Gunungkidul masih tersisa sekitar 1,9 kilometer. Jembatan yang dibangun memiliki panjang 40 meter dan diharapkan dapat mendorong masuknya investasi, khususnya di sektor pariwisata.




