Top
Begin typing your search above and press return to search.

Diminta tanggung beban selisih harga BBM, Pertamina diingatkan jangan rugi

Diminta tanggung beban selisih harga BBM, Pertamina diingatkan jangan rugi
X

Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim

Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, mengingatkan pemerintah agar kebijakan menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi maupun nonsubsidi tidak mengorbankan kesehatan finansial PT Pertamina (Persero). Penunjukan Pertamina untuk menanggung seluruh beban selisih harga dinilai menempatkan perusahaan plat merah tersebut dalam posisi yang sangat menantang.

Politisi muda PKB ini menekankan bahwa pemerintah harus segera memberikan kejelasan mengenai skema kompensasi agar beban tersebut tidak mengganggu operasional Pertamina dalam jangka panjang. Ketidakjelasan perhitungan dinilai dapat berdampak sistemik pada sektor energi nasional secara keseluruhan.

“Kebijakan pemerintah menahan harga BBM di tengah gejolak harga mentah dunia menempatkan PT Pertamina dalam posisi yang cukup menantang secara finansial. Maka dibutuhkan kejelasan skema keputusan ini dari pemerintah, termasuk perhitungan beban kompensasi dan dampaknya terhadap sektor energi nasional secara transparan dan terukur,” ujar Rivqy Abdul Halim dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (3/4/2026).

Rivqy juga menggarisbawahi peran krusial Kementerian Keuangan dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan ketahanan APBN. Ia mendesak agar alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi dipastikan tersedia dalam jumlah yang memadai agar tidak terjadi hambatan arus kas pada perusahaan pelaksana.

“Kementerian Keuangan harus memastikan ketersediaan anggaran kompensasi dan subsidi energi secara memadai dalam APBN, serta menjaga keberlanjutan fiskal agar tidak menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan negara. Jangan sampai kebijakan yang berniat baik ini justru menimbulkan beban utang baru yang membahayakan struktur keuangan negara di masa depan,” tegasnya.

Lebih lanjut, legislator Komisi VI ini meminta agar pemerintah tidak bersikap kaku dalam menerapkan kebijakan penahanan harga. Evaluasi berkala menjadi harga mati untuk menyesuaikan arah kebijakan dengan kondisi riil di pasar global maupun domestik.

“Pemerintah juga harus melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan penahanan harga BBM dengan mempertimbangkan dinamika harga minyak dunia, kemampuan fiskal negara, serta dampaknya terhadap daya beli masyarakat. Kita harus sangat hati-hati dalam melihat sejauh mana kekuatan fiskal kita mampu menahan guncangan eksternal tanpa mengabaikan kesejahteraan rakyat,” tutup Rivqy.

Arie Dwi Prasetyo/Ter

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire