Dinamika harga minyak dunia 2026: Volatil, cenderung tertekan
Merosotnya harga minyak dunia mendapatkan sorotan Anggota Komisi XII Haji Jalal Abdul Nasir, secara keseluruhan, pemerintah menilai belum terdapat gejolak ekstrem yang memerlukan intervensi pasar secara drastis.

Sumber foto: Efendi Murdiono/elshinta.com
Sumber foto: Efendi Murdiono/elshinta.com
Merosotnya harga minyak dunia mendapatkan sorotan Anggota Komisi XII Haji Jalal Abdul Nasir, secara keseluruhan, pemerintah menilai belum terdapat gejolak ekstrem yang memerlukan intervensi pasar secara drastis. Namun demikian, pemantauan terhadap perkembangan pasar minyak global tetap dilakukan secara intensif untuk menjaga stabilitas energi dan fiskal nasional.
Legislator dari Fraksi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) meyebutkan, penurunan harga minyak di awal 2026 dipicu oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah meredanya ketegangan terkait Iran. Pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut bahwa penindakan terhadap demonstran di Iran mulai menurun, turut menenangkan pasar dan mengurangi kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global. Selain itu, fokus pelaku pasar bergeser ke kondisi persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
"Data dan ekspektasi peningkatan stok minyak di AS pada pertengahan Januari mendorong sentimen bearish, mengingat besarnya pengaruh AS dalam pasokan energi global. Dari sisi jangka menengah hingga panjang, berbagai survei dan pandangan analis menunjukkan kecenderungan pasar yang pesimistis. Pasokan global dinilai masih terlalu besar dibandingkan dengan permintaan, sehingga menekan prospek harga minyak ke depan," ucap Haji Jalal dalam keterangan yang diterima Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono, Selasa (27/01).
Faktor geopolitik, gangguan pasokan tak terduga, serta perubahan kebijakan produsen utama dapat sewaktu waktu memicu lonjakan harga. Dengan kondisi tersebut, volatilitas diperkirakan akan tetap menjadi ciri utama pasar minyak sepanjang 2026, terjebak di antara tekanan fundamental dan risiko geopolitik.
Antisipasi Pemerintah Indonesia menghadapi dinamika harga minyak global tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Keuangan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif.
Pertama, pemerintah bersama DPR menyepakati asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) dalam RAPBN 2026 sebesar US$70 per barel. Angka ini lebih rendah dibandingkan asumsi APBN 2025 yang sebesar US$82 per barel, sebagai bentuk kehati-hatian dalam merespons ketidakpastian pasar minyak global.
Kedua, penetapan asumsi ICP yang lebih realistis membantu pemerintah merancang APBN yang lebih prudent. Meski harga minyak yang lebih rendah berpotensi mengurangi penerimaan negara dari sektor migas, kondisi ini juga dapat meringankan beban subsidi dan kompensasi BBM, terutama jika harga jual di dalam negeri dapat disesuaikan.
Ketiga, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi minyak dan gas bumi domestik guna memperkuat ketahanan energi nasional. Upaya ini dilakukan melalui optimalisasi lapangan minyak tua dengan metode Enhanced Oil Recovery (EOR), pengoperasian kembali sumur-sumur idle, serta eksplorasi cadangan baru.
Keempat, pengembangan infrastruktur kilang menjadi fokus penting, khususnya penyelesaian proyek-proyek kilang yang sedang berjalan. Pemerintah menargetkan pengurangan impor BBM secara bertahap, dengan langkah awal menghentikan impor solar mulai 2026.
Kelima, diversifikasi energi terus diperkuat melalui pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel secara konsisten, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada minyak mentah fosil impor.




