Ekonom: Rupiah berisiko tetap lemah jika konflik Iran-Israel tak reda
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memandang, rupiah berisiko tetap berada di sekitar titik terlemahnya saat ini dan masih terbuka peluang melemah lebih lanjut, apabila konflik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel tidak kunjung reda.

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memandang, rupiah berisiko tetap berada di sekitar titik terlemahnya saat ini dan masih terbuka peluang melemah lebih lanjut, apabila konflik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel tidak kunjung reda.
Ia menjelaskan, pergantian kepemimpinan di Iran justru menambah ketidakpastian karena proses suksesi berlangsung di tengah perang, elit Iran sedang terbelah, dan figur yang menguat adalah Mojtaba Khamenei yang dekat dengan Garda Revolusi serta dipandang lebih keras.
“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dolar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Pada hari ini, Senin, rupiah sempat menyentuh 16.990 per dolar AS ketika harga minyak menembus 100 dolar AS per barel.
Josua menilai stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) sejauh ini cukup penting untuk menahan gejolak agar pelemahan rupiah tidak berlangsung tidak teratur, tetapi belum tentu cukup untuk membalikkan arah selama sumber tekanannya tetap berasal dari perang, lonjakan minyak, dan arus modal global.
Untuk diketahui, BI sebelumnya pada Februari lalu masih menahan suku bunga acuan pada level 4,75 persen dengan fokus utama penguatan stabilisasi rupiah. Bank sentral juga memperkuat intervensi di pasar dalam negeri dan luar negeri.
“Artinya, kebijakan Bank Indonesia saat ini lebih tepat dibaca sebagai upaya meredam kepanikan dan smoothing pergerakannya, bukan menjamin rupiah segera kembali menguat,” katanya.
Dari sisi cadangan devisa, Josua memandang ruangnya masih memadai untuk digunakan sebagai bantalan.
Posisi akhir Februari 2026 sebesar 151,9 miliar dolar AS atau setara 6,1 bulan impor, sehingga BI masih memiliki amunisi untuk menjaga stabilitas pasar.
“Namun penggunaan cadangan devisa perlu tetap terukur, karena fungsinya adalah meredam gejolak dan menjaga kelancaran kebutuhan valuta asing, bukan mempertahankan satu tingkat kurs tertentu terus-menerus ketika tekanan eksternal masih besar,” ujar Josua.
Dengan kata lain, imbuh dia, cadangan devisa masih kuat, tetapi efektivitasnya akan jauh lebih besar bila tekanan geopolitik mulai mereda.
Untuk harga minyak, selama gangguan di Selat Hormuz dan serangan ke fasilitas energi belum mereda, Josua melihat harga minyak sangat mungkin bertahan tinggi di atas 100 dolar AS dan tetap sangat bergejolak. Bahkan pasar sudah sempat menguji kisaran 120 dolar AS.
Ia mengingatkan, dampak perang ini bisa berlangsung berminggu-minggu sampai berbulan-bulan karena pemulihan pengiriman dan produksi tidak bisa instan.
Bagi Indonesia, dampak terhadap inflasi dalam jangka sangat dekat kemungkinan masih agak tertahan karena pemerintah menyatakan akan menambah subsidi energi dan belum berencana menaikkan harga bahan bakar bersubsidi setidaknya sampai Lebaran.
“Namun bila konflik berkepanjangan, tekanan akhirnya akan merambat ke biaya angkutan, logistik, pangan, dan barang impor, sehingga daya beli rumah tangga melemah dan tekanan harga domestik meningkat. Risiko ini perlu diwaspadai karena inflasi Februari 2026 sudah tercatat 4,76 persen,” kata Josua.




