KKKS didorong bawa pulang produksi minyak luar negeri demi jaga pasokan BBM
Di tengah ancaman krisis energi global, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) asal Indonesia didorong untuk membawa pulang hasil produksi minyak mentah mereka dari luar negeri guna memperkuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.

Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Di tengah ancaman krisis energi global, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) asal Indonesia didorong untuk membawa pulang hasil produksi minyak mentah mereka dari luar negeri guna memperkuat pasokan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menyatakan langkah tersebut perlu dilakukan agar kebutuhan energi domestik tetap terpenuhi di tengah tekanan global yang semakin meningkat.
“Perusahaan migas asal Indonesia sebaiknya membawa pulang minyak dari luar negeri untuk diolah di kilang dalam negeri dengan harga publish rate. Secara bisnis mungkin selisihnya kecil, namun yang terpenting adalah kebutuhan dalam negeri terpenuhi,” ujar Komaidi di Jakarta, Senin (6/4).
Menurut dia, dalam kondisi krisis energi, prioritas utama adalah menjamin ketersediaan BBM bagi masyarakat dan industri. Ia menilai, sejumlah negara telah merasakan dampak serius akibat keterbatasan energi.
Komaidi mencontohkan kondisi di Filipina yang mulai mengalami keterbatasan energi. “Masyarakat di sana bahkan harus berjalan kaki ke kantor, sementara harga BBM meningkat signifikan,” katanya.
Langkah membawa pulang minyak mentah sebelumnya telah dilakukan PT Pertamina (Persero) pada Januari lalu. Saat itu, Pertamina mengangkut sekitar 1 juta barel minyak mentah dari Aljazair. Minyak tersebut berasal dari Wilayah Kerja Blok 405 A yang dikelola Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP).
Komaidi berharap langkah serupa dapat kembali dilakukan, tidak hanya oleh Pertamina, tetapi juga perusahaan migas nasional lainnya seperti Medco. Selain itu, ia juga mendorong agar minyak mentah dari KKKS swasta yang beroperasi di Indonesia dapat disalurkan ke kilang domestik.
Ia menambahkan, dalam situasi saat ini, kepentingan nasional harus menjadi prioritas utama. Kenaikan harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, serta keterbatasan pasokan global menjadi faktor yang perlu diantisipasi bersama.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Elan Biantoro, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan tersebut. Ia menilai langkah itu penting untuk mencegah defisit pasokan energi dalam negeri.
“Memang harus dilakukan, membawa pulang minyak hasil ekspansi luar negeri agar pasokan dalam negeri tetap terjaga,” ucap Elan seperti dilaporkan Reporter Elshinta, Supriyarto Rudatin, Senin (6/4).
Menurut Elan, ketidakpastian geopolitik global menuntut semua pihak untuk mencari solusi agar kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi. Ia juga menekankan pentingnya menjaga pasokan bagi sektor industri yang bergantung pada ketersediaan BBM.
“Kalau masyarakat bisa diimbau berhemat, sektor industri tetap membutuhkan pasokan untuk menjaga aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi seperti saat ini, pelaku usaha migas perlu mengesampingkan orientasi keuntungan jangka pendek dan lebih fokus pada ketersediaan pasokan.
“Yang penting barangnya ada dulu. Dengan begitu, roda ekonomi tetap bisa berjalan,” kata Elan.




