Top
Begin typing your search above and press return to search.

Pelabuhan Merak kosong dibanding Pelabuhan Penunjang, GAPASDAP minta kebijakan lebih fleksibel

Kondisi tak biasa terjadi pada puncak arus mudik Lebaran 2026 di lintasan penyeberangan Merak–Bakauheni. Pada H-4, yang setiap tahunnya identik dengan lonjakan penumpang dan antrean panjang, justru terpantau relatif lengang di Pelabuhan Merak.

Pelabuhan Merak kosong dibanding Pelabuhan Penunjang, GAPASDAP minta kebijakan lebih fleksibel
X

Sumber foto: Mamo Erfanto/elshinta.com.

Kondisi tak biasa terjadi pada puncak arus mudik Lebaran 2026 di lintasan penyeberangan Merak–Bakauheni. Pada H-4, yang setiap tahunnya identik dengan lonjakan penumpang dan antrean panjang, justru terpantau relatif lengang di Pelabuhan Merak.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan, Khoiri Soetomo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memantau kondisi tersebut sejak pagi hari.

“Seperti yang kita lihat sejak pukul 08.00 WIB hingga sore ini H-4, laporan yang kami terima baik visual, foto maupun video menunjukkan kondisi Pelabuhan Merak relatif kosong, padahal biasanya ini adalah puncak arus mudik yang selalu terjadi antrean,” ujarnya. Selasa, 17 Maret 2026.

Menurut Khoiri, kondisi tersebut sangat disayangkan mengingat kapasitas besar yang dimiliki Pelabuhan Merak. Dengan usia operasional lebih dari lima dekade, pelabuhan ini memiliki tujuh dermaga aktif dan didukung puluhan armada kapal jenis Ro-Ro dan ferry berkapasitas besar.

Namun, di sisi lain, kepadatan justru terjadi di pelabuhan penunjang seperti Pelabuhan Ciwandan dan Pelabuhan BBJ yang melayani kendaraan logistik maupun roda dua.

GAPASDAP pun telah melayangkan surat kepada Kementerian Perhubungan Republik Indonesia terkait kondisi tersebut. Bahkan, pada hari yang sama, surat kedua kembali dikirimkan sebagai bentuk keprihatinan.

“Kami sangat menghormati kebijakan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang bertujuan mengurai kemacetan. Namun kami berharap penerapannya bisa lebih dinamis dan fleksibel,” kata Khoiri seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Mamo Erfanto, Rabu (18/3).

Ia menjelaskan, dengan pengawasan dari berbagai pihak seperti KSOP, BPTD, dan Korlantas Polri, seharusnya distribusi kendaraan bisa diatur secara real-time. Jika terjadi kekosongan di Merak, maka antrean panjang di pelabuhan penunjang dapat segera dialihkan.

Lebih lanjut, Khoiri menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata menyangkut kepentingan operator kapal, melainkan menyangkut pelayanan kepada masyarakat, khususnya pengemudi logistik dan pemudik roda dua.

“Kami ingin para pengemudi logistik dan kendaraan roda dua juga mendapatkan pelayanan yang manusiawi. Saat ini mereka harus antre jauh di Ciwandan, kepanasan, kehujanan, dengan fasilitas yang tidak sebaik di Merak,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa waktu masih tersedia untuk melakukan evaluasi kebijakan, mengingat arus mudik masih berlangsung hingga H-1 dan akan berlanjut pada arus balik hingga H+7.

GAPASDAP berharap pemerintah dapat menciptakan keseimbangan antara kapasitas armada dan infrastruktur pelabuhan, serta memastikan distribusi kendaraan antara pelabuhan utama dan penunjang berjalan optimal.

“Keberhasilan bukan sekadar membuat Merak terlihat kosong, tetapi bagaimana menciptakan kelancaran yang merata dan berkeadilan bagi seluruh pengguna jasa penyeberangan,” tutup Khoiri.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire