Pemkab Sleman tegaskan perkuat ketahanan pangan dan lingkungan sehat
Masalah pangan dan lingkungan yang bersih menjadi komtimen pemerintah Kabupaten Sleman untuk mewujudkanya.

Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.
Sumber foto: Izan Raharjo/elshinta.com.
Masalah pangan dan lingkungan yang bersih menjadi komtimen pemerintah Kabupaten Sleman untuk mewujudkanya. Untuk mewujudkan ketahanan pangan, Sleman mendorong optimalisasi potensi lokal. Sementara dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, Pemkab Sleman dorong partisipasi aktif masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan di tingkat tapak.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto, S.Hut, MT, mengatakan di Kabupaten Sleman, penguatan ketahanan pangan menjadi prioritas dengan pendekatan yang dikembangkan melalui optimalisasi potensi lokal, dengan memaksimalkan sumber daya pertanian dan perikanan yang tersedia. Dalam proses pelaksanaanya, masih terdapat sejumlah tantangan, antara lain produktivitas yang belum optimal, keterbatasan kapasitas sumber daya manusia, belum optimalnya kelembagaan kelompok tani, serta masih kurangnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis dan terpadu untuk memperkuat ketahanan pangan melalui pemberdayaan pertanian dan perikanan berbasis sumber daya lokal.
"Upaya peningkatan ketersediaan pangan dilakukan melalui optimalisasi produksi komoditas pertanian pokok yang sesuai dengan kondisi wilayah Kabupaten Sleman. Strategi yang diterapkan diantaranya meliputi penggunaan benih unggul, penerapan pola tanam yang tepat, pemupukan berimbang, serta pengendalian hama terpadu," Rofiq Andriyanto pada jumpa pers Sleman Tangguh dan Berdaya: Sungai Bersih, Pangan Terjaga, Masyarakat Siaga, Selasa, (3 Maret 2026).
Sementara pada sektor perikanan, dilakukan dengan pengembangan budidaya skala rumah tangga dan kelompok, termasuk pemanfaatan kolam terpal, sistem bioflok, serta pola pertanian terintegrasi seperti mina padi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendukung perbaikan gizi keluarga melalui ketersediaan sumber protein.
Untuk meningkatkan produktivitas, Sleman fokus pada penerapan teknologi tepat guna, mekanisasi pertanian, efisiensi penggunaan pupuk dan air, serta penerapan praktik budidaya yang baik. Petani juga diberikan pemahaman mengenai analisis usaha tani agar mampu menghitung biaya produksi, pendapatan, dan keuntungan serta melakukan perencanaan usaha secara lebih baik. Selain itu, juga memanfaatkan pekarangan rumah menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung ketahanan pangan keluarga.
"Pekarangan dimanfaatkan untuk menanam sayuran, buah-buahan, tanaman obat keluarga, serta budidaya ternak dan ikan skala kecil," imbuhnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo, Rabu (4/3).
Sementara itu, dalam masalah pengendalian lingkungan hidup, Sleman menegaskan tidak dapat dilaksanakan secara sektoral semata, melainkan memerlukan partisipasi aktif masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan di tingkat tapak. Melalui pendekatan berbasis masyarakat, Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong terbentuknya komunitas peduli lingkungan, termasuk komunitas peduli sungai.
Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Sugeng Riyanta, ST, MM, mengatakan seiring dengan meningkatnya aktivitas pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kabupaten Sleman, tekanan terhadap kualitas lingkungan hidup, khususnya pada sumber daya air dan ekosistem sungai, turut mengalami peningkatan. Permasalahan seperti pencemaran sungai, pengelolaan sampah domestik, serta perubahan tata guna lahan menjadi tantangan yang harus ditangani secara kolaboratif.
Pemkab Sleman melibatkan Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) dalam upaya menjaga lingkungan sungai yang bersih. Pada Tahun 2026 FKSS memverifikasi komunitas sebanyak 31 Komunitas Peduli Sungai yang tersebar pada 11 Kapanewon. Yang belum ada Komunitas (Mlati, Seyegan, Minggir, Godean, Sleman, dan Prambanan). FKSS menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam pengendalian lingkungan hidup berbasis masyarakat.
"Komunitas berperan aktif dalam pemantauan kondisi sungai secara partisipatif di tingkat lokal. Kegiatan yang dilakukan meliputi aksi bersih sungai, edukasi lingkungan, serta pelaporan indikasi pencemaran. Forum komunitas turut mendukung upaya restorasi bantaran sungai dan pengurangan sampah domestik. Keterlibatan masyarakat melalui komunitas memperkuat pengawasan sosial terhadap potensi pencemaran," ujarnya.




