PHR incar 11,3 miliar barel minyak dari migas non-konvensional di Blok Rokan
Potensi di North Aman menjadi fondasi pembukaan blok MNK lainnya seperti South Aman, Rangau, dan Balam di wilayah Sumatra.

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tengah memacu pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK) di wilayah North Aman, Blok Rokan. Langkah ini diambil guna menahan laju penurunan produksi pada lapangan-lapangan minyak yang sudah tua (*mature fields*).
PHR mengidentifikasi potensi sumber daya yang sangat besar di sub-cekungan North Aman, yakni mencapai 11,3 miliar barel minyak di tempat (*billion barrels of oil*). Potensi ini menjadi peluang baru yang selama ini belum pernah tergarap di industri migas Indonesia.
“Dengan kondisi produksi lapangan tua yang terus menurun, pengembangan migas non-konvensional bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan strategis,” ujar Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, dalam ajang OTC Asia 2026 di Kuala Lumpur, seperti yang tertuang dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/4/2026).
Saat ini, PHR telah mencatatkan progres penting melalui uji alir (*flowback test*) pada sumur eksplorasi di struktur Gulamo dan Kelok. Keberhasilan ini membuktikan adanya hidrokarbon yang siap dikembangkan lebih lanjut.
Berdasarkan peta jalan perusahaan, PHR menargetkan pemberian kontrak bagi hasil (*Production Sharing Contract*) pada kuartal II 2026. Produksi awal ditargetkan mulai berjalan pada 2028, dengan proyeksi puncak produksi pada 2037 mendatang.
“MNK berpotensi menjadi *game changer* dalam memperkuat portofolio energi masa depan Pertamina sekaligus menjaga ketahanan energi nasional,” tambah Arifin.
Meski memiliki potensi jumbo, Arifin mengakui bahwa pengembangan MNK menghadapi tantangan besar, terutama pada aspek biaya investasi yang tinggi dan kesiapan infrastruktur.
Menurutnya, pengembangan migas jenis ini membutuhkan dukungan regulasi dan fiskal yang kompetitif dari pemerintah agar dapat mencapai skala ekonomi. Kolaborasi dengan mitra strategis yang memiliki teknologi mumpuni juga menjadi kunci utama.
“Tantangan terbesar MNK justru berada pada aspek *above ground*, mulai dari biaya investasi yang masih tinggi hingga penguatan kemampuan dan pengalaman,” jelasnya.
Selain PHR, Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku induk usaha juga mulai menerapkan strategi pertumbuhan ganda. Strategi ini menggabungkan penguatan bisnis hulu migas konvensional dengan pengembangan energi rendah karbon untuk menjawab tuntutan penurunan emisi global.
Rama Pamungkas




