Rupiah melemah seiring ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Fed
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin, bergerak melemah 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.740 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.725 per dolar AS.

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Senin, bergerak melemah 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.740 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.725 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan kurs rupiah seiring ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed pada tahun ini.
“Mengacu pada risalah rapat The Fed per Desember, ada perpecahan pendapat anggota The Fed terkait prospek penurunan bunga antara yang berkeinginan untuk penguatan pasar tenaga kerja dan yang ingin pencapaian target inflasi 2 persen yang masing-masing saling berlawanan,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Mengutip Xinhua, sebagian pendapat anggota The Fed menyampaikan bahwa pelonggaran kebijakan suku bunga tepat diputuskan sebagai respons terhadap risiko penurunan lapangan kerja.
Sebagai lainnya menunjukkan risiko inflasi yang lebih tinggi, sehingga disarankan tak melakukan penurunan suku bunga lebih lanjut.
Data terbaru CME FedWatch Tool menunjukkan Federal Reserve diperkirakan memiliki probabilitas 85,1 persen untuk mempertahankan suku bunga tak berubah pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Januari 2026.
Pelemahan rupiah juga dipengaruhi risiko geopolitik terkait invasi AS terhadap Venezuela.
“Perseteruan AS dengan Venezuela berdampak pada penjualan SBN (Surat Berharga Negara), terutama oleh pelaku pasar asing, dan peningkatan yield seiring pengalihan pada aset yang aman seperti emas dan dolar AS,” ungkap Rully.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.748 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.725 per dolar AS.




