Sawit jadi pilihan sehat untuk gorengan saat puasa
Ahli IPB: Stabil di suhu tinggi dan kaya vitamin A

Dr. Puspo Edi Giriwono, STP, M.Agr, Head of the SEAFAST Center LRI PGKH Institut Pertanian Bogor (IPB)
Dr. Puspo Edi Giriwono, STP, M.Agr, Head of the SEAFAST Center LRI PGKH Institut Pertanian Bogor (IPB)
Minyak sawit dinilai tetap menjadi pilihan yang baik untuk memasak dan menggoreng makanan, termasuk saat bulan Ramadan. Selain mudah dijangkau harganya, minyak sawit juga memiliki karakteristik yang stabil saat digunakan pada suhu tinggi.
Hal tersebut disampaikan Dr. Puspo Edi Giriwono, STP, M.Agr, Head of the SEAFAST Center LRI PGKH Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi IPB.
Dalam wawancara dengan Radio Elshinta pada Senin (16/3/2026), Puspo menjelaskan bahwa minyak sawit merupakan jenis minyak goreng yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia.
“Lebih dari 95 persen minyak goreng yang digunakan di Indonesia berasal dari sawit. Ini juga menjadi kebanggaan karena Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia,” ujarnya.
Menurutnya, minyak sawit memiliki komposisi asam lemak yang membuatnya relatif stabil saat digunakan untuk menggoreng pada suhu tinggi, sehingga lebih cocok untuk berbagai jenis masakan yang memerlukan proses penggorengan.
Selain itu, minyak goreng sawit yang beredar di Indonesia juga telah diperkaya dengan vitamin A, sehingga memberikan nilai tambah dari sisi nutrisi bagi masyarakat.
“Minyak sawit yang kita gunakan saat ini juga sudah difortifikasi dengan vitamin A, sehingga memiliki manfaat tambahan dari sisi gizi,” kata Puspo.
Ia menambahkan, selama menjalankan ibadah puasa tubuh akan memanfaatkan cadangan energi dari jaringan lemak karena tidak ada asupan makanan dalam jangka waktu tertentu. Kondisi ini membuat pola makan selama Ramadan cenderung lebih teratur.
Meski demikian, Puspo tetap mengingatkan agar penggunaan minyak goreng dilakukan secara bijak dan tidak dipakai berulang kali terlalu banyak.
“Jika harus digunakan kembali, sebaiknya maksimal tiga kali pemakaian. Jika warnanya sudah berubah atau terdapat sisa-sisa gorengan yang menghitam, sebaiknya diganti dengan minyak yang baru,” ujarnya.
Dengan penggunaan yang tepat dan diimbangi dengan konsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayuran, minyak sawit tetap dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat selama Ramadan. (Ter)




