Kepemimpinan Prabowo fondasi kebangkitan ekonomi dan penguatan peran global RI
Ketua Lembaga Pemikiran Stratejik (LPS) Prabowonomics, Tomy Nikson, menyampaikan optimisme dan keyakinan kuat bahwa kepemimpinan Prabowo Subianto menjadi fondasi penting bagi kebangkitan ekonomi nasional sekaligus penguatan peran global Indonesia.

Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Sumber foto: Istimewa/elshinta.com.
Ketua Lembaga Pemikiran Stratejik (LPS) Prabowonomics, Tomy Nikson, menyampaikan optimisme dan keyakinan kuat bahwa kepemimpinan Prabowo Subianto menjadi fondasi penting bagi kebangkitan ekonomi nasional sekaligus penguatan peran global Indonesia. Menurutnya, keyakinan tersebut bukan didasari sentimen emosional atau sikap partisan, melainkan hasil pembacaan terhadap arah kebijakan, implementasi program strategis, serta langkah diplomasi internasional yang telah dijalankan.
Menurut Tomy, salah satu kebijakan utama yang disorot adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dipandang bukan sekadar bantuan sosial, melainkan desain kebijakan ekonomi struktural yang berdampak luas. Dengan ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi di berbagai daerah dan memproduksi jutaan porsi makanan setiap hari, MBG dinilai mampu menggerakkan rantai pasok pangan dari tingkat desa hingga nasional. "Kebutuhan bahan pangan yang meningkat mendorong produksi petani dan pelaku usaha kecil, membuka lapangan kerja, serta memperkuat daya beli masyarakat," ujar Tomy dalam keterangannya, Kamis (5/3).
Tomy menilai bahwa pendekatan ini mencerminkan pemanfaatan efek berganda (multiplier effect) dalam ekonomi. Perputaran ekonomi lokal meningkat seiring bertambahnya aktivitas produksi dan konsumsi. Selain itu, MBG diposisikan sebagai investasi jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Rujukan terhadap riset internasional yang menyatakan bahwa setiap satu dolar investasi gizi dapat menghasilkan pengembalian ekonomi berlipat ganda menunjukkan bahwa kebijakan ini diarahkan pada pembangunan human capital.
"Peningkatan gizi anak dan generasi muda berkorelasi dengan produktivitas, capaian pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang," ujarnya.
Dalam perspektif pembangunan, lanjut Tomy, Presiden menekankan bahwa pertumbuhan harus dimulai dari lapisan terbawah masyarakat. Paradigma ini memperluas pusat pertumbuhan ekonomi, tidak hanya bertumpu pada sektor besar atau kota-kota utama, tetapi menjangkau wilayah yang selama ini kurang tersentuh. "MBG menjadi instrumen untuk memastikan stabilitas ekonomi lebih resilien terhadap guncangan eksternal melalui penguatan konsumsi rumah tangga dan kepastian permintaan pangan," katanya.
Tomy juga mengakui adanya tantangan implementasi dalam program berskala nasional. Namun ia menekankan pentingnya komitmen kepemimpinan terhadap pengawasan, evaluasi, dan perbaikan tata kelola. Ketegasan terhadap penyimpangan serta keberanian melakukan koreksi dinilai sebagai ciri kepemimpinan yang bertanggung jawab dan adaptif.
Di tingkat global, langkah Presiden menandatangani Piagam Board of Peace di Davos pada 22 Januari 2026 menjadi simbol peran aktif Indonesia dalam mendorong stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pascakonflik. Partisipasi ini sejalan dengan prinsip solusi dua negara dan resolusi Dewan Keamanan PBB. "Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak pasif dalam dinamika geopolitik, melainkan hadir sebagai kekuatan moral yang mendorong perdamaian dan keadilan internasional," tegas Tomy.
Ia menilai kombinasi penguatan ekonomi domestik dan diplomasi aktif mencerminkan kepemimpinan yang utuh: membangun kesejahteraan di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia di panggung global. Optimisme terhadap Presiden bertumpu pada empat hal utama: visi pembangunan jangka panjang yang berpusat pada rakyat, keberanian menjalankan program besar dengan target terukur, komitmen pada tata kelola yang akuntabel, serta peran strategis dalam isu global.
Untuk itu, Tomy mengajak agar seluruh elemen bangsa mendukung pembangunan secara objektif dan konstruktif. Kritik tetap penting dalam demokrasi, namun harus diarahkan untuk memperbaiki kebijakan. Ia meyakini bahwa dengan konsistensi, kerja keras, dan dukungan rakyat, Indonesia berada pada momentum untuk melompat menuju fase kemajuan baru—lebih mandiri, berdaulat, dan semakin diperhitungkan dunia.




