Bahaya di balik nikmat: Fakta kerang hijau yang jarang diketahui
Mengulas fakta tersembunyi kerang hijau, ada bahaya di balik kenikmatannya, mulai dari mikroplastik, logam berat, serta biotoksin laut berdasarkan riset ilmiah.
Kerang hijau. (Sumber: Freepik)Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu makanan laut yang populer di Indonesia dan wilayah Asia-Pasifik. Teksturnya yang kenyal dan rasanya yang khas membuatnya digemari berbagai kalangan, dari warung kaki lima hingga restoran seafood. Di sisi lain, ada sejumlah fakta penting dan potensi bahaya kesehatan yang sering tidak diketahui konsumen, terutama terkait kontaminan yang mungkin terkandung dalam kerang hijau sebelum diolah atau dikonsumsi. Fakta-fakta berikut menjelaskan risiko tersebut berdasarkan temuan penelitian ilmiah terbaru dan literatur kesehatan.
Kerang hijau menyaring kontaminan dari lingkungan
Kerang hijau adalah organisme filter feeder, yang berarti mereka hidup dengan menyaring partikel-partikel kecil dari air laut, termasuk fitoplankton, detritus, dan zat terlarut lainnya. Karena sifat tersebut, mereka mengumpulkan zat-zat yang ada di sekitarnya, tak hanya makanan plankton, tetapi juga polutan lain yang ada dalam air.
Kontaminasi mikroplastik
Beberapa penelitian di Indonesia, termasuk di pesisir Jawa Timur dan Jakarta, menemukan bahwa kerang hijau mengandung mikroplastik dalam jumlah signifikan. Mikroplastik ini beragam bentuknya (fragmen dan serat), dan sebagian terdeteksi dalam jaringan kerang yang dijual di pasar tradisional. Polimer-polimer berbahaya dan bahan kimia tambahan umumnya digunakan dalam produksi plastik turut terdeteksi dalam jaringan kerang tersebut.
Konsumsi kerang hijau utuh, termasuk bagian isi yang telah terkontaminasi, dapat menyebabkan manusia menghirup atau menelan sejumlah mikroplastik. Beberapa studi mengaitkan paparan mikroplastik dengan masalah sistem darah, gangguan pencernaan, reproduksi, dan stres oksidatif, yang menjadi pemicu potensi risiko kesehatan.
Akumulasi logam berat
Penelitian mengenai logam berat pada kerang hijau dari beberapa perairan menunjukkan bahwa organisme ini dapat mengakumulasi logam seperti kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan kromium (Cr) di tubuhnya. Meski kadar logam berat pada kerang dalam beberapa studi masih berada di bawah batas aman internasional, perhitungan Target Hazard Quotient (THQ) menunjukkan potensi efek non-karsinogenik jika konsumsinya berlebihan.
Kerang yang berasal dari perairan yang terpolusi cenderung mengandung logam berat lebih tinggi, dan WHO serta badan kesehatan lainnya secara umum menetapkan batas konsumsi untuk mengurangi risiko terhadap sistem saraf, ginjal, serta fungsi metabolik, terutama bagi anak-anak dan wanita hamil.
Risiko dari biotoksin laut
Salah satu ancaman paling serius dari makanan laut berfiltrasi adalah biotoksin laut, yaitu racun yang dihasilkan mikroalga tertentu. Kerang hijau dapat mengakumulasi biotoksin ini tanpa menunjukkan tanda sakit.
Paralytic Shellfish Poisoning (PSP)
PSP merupakan salah satu bentuk keracunan akibat racun yang disintesis oleh fitoplankton tertentu, terutama dari kelompok dinoflagellata seperti Alexandrium. Racun, termasuk saxitoxin dan analognya, tidak hancur oleh panas atau proses memasak biasa, sehingga tetap berbahaya walau makanan laut sudah diolah.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kerang hijau dapat mengakumulasi toksin PSP dalam jaringannya, terutama selama atau setelah kejadian “red tide” (ledakan alga berbahaya di perairan). Keracunan PSP pada manusia bisa terjadi dalam hitungan menit setelah konsumsi, dan gejalanya mencakup mual, muntah, sakit perut, kesemutan, hingga gangguan saraf dan pernapasan.
Kasus keracunan massal setelah mengonsumsi kerang hijau dilaporkan terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Toksin PSP dicurigai sebagai penyebabnya.
Variasi bahaya berdasarkan sumber kerang
Keamanan kerang hijau sangat tergantung pada kualitas perairan asalnya. Beberapa wilayah laut yang mengalami polusi limbah industri, limbah domestik, atau kejadian blooming mikroalga berbahaya memiliki kerang dengan kontaminan dan biotoksin lebih tinggi dibandingkan daerah dengan perairan yang relatif bersih.
Artikel berita dan laporan pemerintah di Indonesia menyebutkan bahwa kerang hijau dari perairan tertentu, seperti Teluk Jakarta, pernah dinyatakan tidak layak konsumsi akibat akumulasi logam berat dan polutan lain yang tinggi di lingkungan sekitarnya.
Pembahasan tentang bahaya di balik nikmatnya kerang hijau bukanlah upaya meniadakan nilai gizinya, melainkan membuka pemahaman bahwa keamanan pangan laut tidak bisa dilepaskan dari kualitas ekosistem tempat organisme tersebut hidup. Kerang hijau, dalam konteks ini, bukan hanya bahan pangan, tetapi juga indikator biologis dari kondisi perairan. Memahami fakta-fakta ini menjadi langkah penting agar konsumsi kerang hijau dipandang secara lebih utuh, tidak hanya dari rasa dan harga, tetapi juga dari jejak lingkungan yang menyertainya.




