Diklat SAR ke-39, Blue Ocean tegaskan peran organisasi pecinta alam dalam isu lingkungan hidup
Melalui pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Search and Rescue (Diklat SAR) ke-39, Blue Ocean kembali menegaskan eksistensinya sebagai organisasi pecinta alam yang konsisten menempatkan isu lingkungan hidup sebagai ruh utama setiap kegiatannya.

Sumber foto: Hari Nurdiansyah/elshinta.com.
Sumber foto: Hari Nurdiansyah/elshinta.com.
Melalui pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Search and Rescue (Diklat SAR) ke-39, Blue Ocean kembali menegaskan eksistensinya sebagai organisasi pecinta alam yang konsisten menempatkan isu lingkungan hidup sebagai ruh utama setiap kegiatannya.
Tidak sekadar membekali peserta dengan kemampuan teknis pencarian dan pertolongan, Diklat SAR ke-39 Blue Ocean dirancang sebagai ruang pendidikan ekologis yang menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, baik di wilayah perairan maupun daratan. Nilai kecintaan terhadap lingkungan menjadi landasan utama dalam setiap materi, praktik lapangan, hingga pembentukan karakter peserta.
Sebagai salah satu organisasi anggota Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Blue Ocean Akademi Maritim Suaka Bahari Cirebon memiliki tanggung jawab moral dan organisatoris dalam mendorong pelestarian lingkungan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pendidikan lapangan yang langsung bersentuhan dengan alam, sehingga peserta tidak hanya memahami teori konservasi, tetapi juga merasakan langsung pentingnya menjaga ekosistem dari kerusakan.
Direktur Eksekutif WALHI Jawa Barat, Wahidin, menegaskan bahwa organisasi pecinta alam memiliki peran strategis dalam menjaga lingkungan hidup, khususnya di tengah meningkatnya ancaman kerusakan ekosistem.
“Organisasi pecinta alam seperti Blue Ocean tidak hanya berperan dalam kegiatan teknis atau petualangan alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk membangun kesadaran ekologis dan keberpihakan pada pelestarian lingkungan, baik di wilayah perairan maupun daratan,” ujar Wahidin seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hari Nurdiansyah, Senin (26/1).
Menurutnya, pendidikan lapangan yang dilakukan melalui kegiatan seperti Diklat SAR menjadi media penting untuk membentuk generasi muda yang memahami keterkaitan antara keselamatan manusia dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam Diklat SAR ke-39 ini, peserta dibekali pemahaman bahwa kemampuan SAR tidak dapat dipisahkan dari kepedulian lingkungan. Aktivitas penyelamatan di alam bebas, kawasan perairan, maupun wilayah rawan bencana menuntut sikap bijak terhadap alam, agar proses pertolongan tidak justru menimbulkan dampak ekologis baru.
Blue Ocean memandang bahwa organisasi pecinta alam memiliki peran strategis dalam menghadapi krisis lingkungan yang kian nyata. Melalui pendidikan berkelanjutan seperti Diklat SAR, Blue Ocean berupaya mencetak generasi yang tidak hanya tangguh secara fisik dan mental, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis dan keberpihakan pada kelestarian alam.
Diklat SAR ke-39 menjadi bukti nyata bahwa Blue Ocean tidak sekadar hadir sebagai organisasi ketarunaan, melainkan sebagai bagian dari gerakan lingkungan hidup yang aktif menjaga perairan dan daratan demi keberlanjutan generasi mendatang.(han)




