Top
Begin typing your search above and press return to search.

Kolaborasi Unimma dan Pra Kedungsari kelola sampah dengan teknologi biopori

Pemerintah Kota Magelang Jateng saat ini sedang gencar mengampanyekan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Masyarakat dihimbau untuk bisa memilah sampah sejak dari rumah, antara yang organik dan anorganik. Pemilahan ini menjadi salah satu cara mengatasi permasalahan sampah.

Kolaborasi Unimma dan Pra Kedungsari kelola sampah dengan teknologi biopori
X

Sumber foto: Kurniawati/elshinta.com.

Pemerintah Kota Magelang Jateng saat ini sedang gencar mengampanyekan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Masyarakat dihimbau untuk bisa memilah sampah sejak dari rumah, antara yang organik dan anorganik. Pemilahan ini menjadi salah satu cara mengatasi permasalahan sampah.

Untuk sampah organik dijadikan kompos, sedangkan anorganik bisa di daur ulang. Cara ini diharapkan menjadi salah satu solusi mengatasi tumpukan sampah di TPA Banyuurip.

Walikota Magelang Damar Prasetyono dalam banyak kesempatan, mengatakan, bahwa persoalan sampah sangat krusial karena TPA Banyuurip sudah overload. TPA ini menampung sampah 70-80 ton setiap harinya. Keterbatasan lahan di kota kecil ini, menyebabkan sampah belum terkelola secara maksimal.

Memahami betapa krusialnya masalah sampah, Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) berkolaborasi dengan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Kedungsari, memberikan pelatihan pembuatan biopori kepada warga setempat.

Melalui program pengabdian kepada masyarakat dilingkungan persyarikatan yang diketuai Dra Marlina Kurnia, digelar kegiatan Qoryah Toyyibah dengan tema "Pemberdayaan Anggota Ranting Aisyiyah Kedungsari Dalam Manajemen Sampah Rumah Tangga Melalui Teknologi Biopori Untuk Mendukung Ekonomi Hijau".

Bersama anggota Siti Noor Hikmah, belasan warga diberi pelatihan membuat biopori. "Biopori mampu mengurai sampah organik menjadi kompos atau pupuk yang memiliki daya jual dan ramah lingkungan," kata Marlina, Rabu (4/2/2026).

Biopori dibuat dengan menggunakan pralon/PVC yang ditanam dalam tanah sedalam 1 meter dengan lebar 10-15 cm. Biopori model ini juga berfungsi untuk penyerapan air. Apabila tidak memiliki lahan, maka biopori bisa dibuat dengan menggunakan galon. "Membuat biopori tidak sulit, sampah organik cukup dicampur dengan EM4 dan molsa, maka dijamin tidak menimbulkan bau sampah," katanya.

Dengan menyediakan alat ini, maka ibu-ibu bisa memanfaatkan sampah organiknya. Setelah dipilah, sampah organik bisa langsung dimasukkan kedalam lubang pralon atau galon yang sudah di beri EM4 dan molsa. Sedang yang anorganik bisa dijual kembali.

Selain memberi teori, para peserta juga diajak praktek membuat biopori. Mereka juga diberi peralatan agar bisa langsung di praktekkan di rumah masing-masing. "Kita mendapat dana hibah riset Muhammadiyah batch VII tahun 2025," terang Marlina seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Kurniawati, Rabu (4/2).

Lurah Kedungsari Budi Prakosa menyambut baik kegiatan Qoryah Toyyibah, kolaborasi Unimma dengan PRA Kedungsari. Terlebih lagi, tema yang diusung merupakan hal krusial yang sedang digaungkan di wilayah kota Magelang. "Pembuatan biopori diharapkan mampu menjaga lingkungan di wilayah Kedungsari agar tetap bersih, sehat dan bebas dari sampah," katanya.

Hal sama disampaikan Ketua PRA Kedungsari Ch Kurniawati, bahwa pelatihan pembuatan biopori sangat relevan untuk kondisi saat ini. "Masalah sampah menjadi isu yang cukup mendesak untuk segera ditangani. Karena persoalan ini bisa menjadi ancaman terhadap lingkungan akibat timbunan sampah yag tidak terkelola dengan baik," ujarnya.

Melalui kegiatan Qoryah Toyyibah, Aisiyah mengajak ibu-ibu sebagai garda terdepan untuk mengelola sampah dari rumah. "Persoalan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun juga seluruh masyarakat," katanya.

Melalui langkah yang sederhana dengan memilah sampah dari rumah, diharapkan para ibu rumah tangga menjadi garda terdepan dalam upaya menyelamatkan lingkungan.

Kurniawati juga berharap, peserta pelatihan bisa menularkan ilmu dan mengajak ibu-ibu dilingkungan sekitarnya, untuk membuat biopori.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada tim pengusul yang tidak berhenti pada pelatihan saja, namun juga mendampingi para peserta hingga mereka mampu membuat biopori. Juga mendampingi manajemen dan pembukuan hasil produksi pupuk model biopori.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire