Top
Begin typing your search above and press return to search.

Pascakebakaran gudang pestisida, PT BS telah lakukan netralisasi udara dan tebar 5.000 ikan di sungai

Manajemen PT Biotek Saranatama (PT BS) menyampaikan sejumlah langkah penanganan pascakebakaran gudang penyimpanan pestisida yang berlokasi di Kawasan Pergudangan Taman Tekno, Tangerang Selatan, Jumat (13/2/2026).

Pascakebakaran gudang pestisida, PT BS telah lakukan netralisasi udara dan tebar 5.000 ikan di sungai
X

Sumber foto: Cecep Supriatna/elshinta.com.

Manajemen PT Biotek Saranatama (PT BS) menyampaikan sejumlah langkah penanganan pascakebakaran gudang penyimpanan pestisida yang berlokasi di Kawasan Pergudangan Taman Tekno, Tangerang Selatan, Jumat (13/2/2026).

Perwakilan manajemen PT Biotek Saranatama Luki mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan yang difasilitasi Paguyuban Taman Tekno dan disaksikan oleh Wakil Wali Kota Tangerang Selatan beserta jajaran.

“Setelah kejadian, kami melakukan penetralan untuk udara dan sungai. Untuk udara, kami menggunakan produk bantuan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Sementara untuk sungai, kami menyediakan absorbent pestisida untuk menetralisir zat yang ada,” Jelas Luki saat ditemui di lokasi.

Ia menjelaskan, proses penetralan dilakukan berdasarkan hasil uji laboratorium. Namun, hasil laboratorium tidak dapat diperoleh secara instan dan membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari.

Selain penetralan, perusahaan juga melakukan pemulihan ekosistem dengan menebar sekitar 5.000 ikan di aliran sungai sekitar lokasi. Jenis ikan yang ditebar meliputi lele, gurame, dan nila.

Menurutnya, ketiga jenis ikan tersebut dipilih karena dinilai cukup sensitif terhadap zat kimia tertentu.

“Kalau ikan-ikan itu bisa bertahan hidup, artinya kadar cemaran pestisida sudah jauh berkurang,” katanya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Cecep Supriatna, Jumat (13/2).

Manajemen juga memastikan pemantauan kualitas air dilakukan secara berkala. Perusahaan telah menyiapkan tim khusus untuk melakukan pengecekan rutin terhadap kondisi sungai dan lingkungan sekitar.

Terkait kerugian, pihak perusahaan belum dapat menyampaikan angka pasti. Namun, nilai kerugian sementara diperkirakan di atas Rp2 hingga Rp3 miliar. Angka tersebut disebut baru mencakup nilai pestisida atau residu yang terdampak kebakaran, belum termasuk peralatan dan aset lainnya.

Menanggapi pernyataan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia yang berencana melakukan audit kawasan serta adanya potensi dugaan tindak pidana, manajemen PT Biotek Saranatama menyatakan siap kooperatif.

“Kami sudah menyerahkan data-data perizinan, baik SK Menteri maupun izin gudang, kepada kepolisian dan dinas terkait. Kalau ada data tambahan yang dibutuhkan, akan kami lengkapi,” ujarnya.

Soal tidak ditemukannya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi, pihak perusahaan menegaskan bahwa bangunan tersebut merupakan gudang penyimpanan, bukan fasilitas produksi.

“Ini tempat penyimpanan, bukan pabrik. Selama penyimpanan tidak ada proses produksi yang menghasilkan limbah. Untuk IPAL, itu kemungkinan menjadi kewenangan pengelola kawasan pergudangan,” kata Luki

Ke depan, PT Biotek Saranatama menyatakan akan meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, dalam pengelolaan limbah B3 serta aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), guna mencegah kejadian serupa terulang.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire