Cara kreatif PPSU Cibubur raup jutaan rupiah dari limbah sampah
Program ini dinilai berdampak besar bagi lingkungan Jakarta. Kegiatan ini juga diharapkan bisa mengurangi tumpukan sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang.

Foto: Heru Lianto
Foto: Heru Lianto
Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di Kelurahan Cibubur, Jakarta Timur, punya cara kreatif menambah penghasilan. Mereka memanfaatkan program bank sampah untuk mengubah limbah menjadi uang tunai.
Kelurahan mewajibkan 82 anggota PPSU menyetor minimal lima kilogram sampah anorganik setiap bulan. Langkah ini bertujuan agar pengelolaan sampah dimulai langsung oleh para petugas.
Lurah Cibubur Rony Abdullah menjelaskan bahwa kebijakan ini mengubah pola pikir petugas. Sampah tidak lagi hanya dibuang, tetapi dikelola agar memiliki nilai jual.
“Setiap anggota PPSU diwajibkan menyetor minimal 5 kilogram per bulan. Namun di lapangan, banyak yang juga mengumpulkan dari lingkungan masyarakat,” ujar Rony, di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Setiap hari, para petugas memisahkan sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik seperti plastik dan kardus menjadi andalan karena nilai ekonominya yang jelas.
Dalam satu bulan, volume sampah yang terkumpul bisa mencapai satu ton. Hasil penjualannya pun cukup menggiurkan bagi para petugas di lapangan.
“Nilainya bisa mencapai 3 sampai 4 juta rupiah per bulan, dengan total hampir satu ton,” kata Rony.
Namun, pendapatan yang diterima setiap petugas tidak sama. Jumlah uang yang mereka bawa pulang bergantung pada kerajinan masing-masing dalam menyetor sampah.
Hasil dari bank sampah ini tidak hanya masuk ke kantong pribadi. Sebagian dana digunakan untuk kegiatan sosial dan dibagikan saat menjelang Idulfitri.
Program ini juga berdampak besar bagi lingkungan Jakarta. Rony berharap kegiatan ini bisa mengurangi tumpukan sampah yang dikirim ke TPST Bantar Gebang.
Salah satu anggota PPSU, Adi Prima, mengaku sangat terbantu dengan program ini. Ia bahkan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengumpulkan limbah dalam jumlah besar.
“Kalau dari sekolah, plastik bisa sampai 500 kilogram, kardus sekitar 750 kilogram,” jelas Adi.
Bagi Adi, kegiatan ini bukan sekadar mengejar keuntungan. Ia merasa bangga bisa menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mendapatkan hasil tambahan.
Heru Lianto/Rama




