Kemdiktisaintek kerahkan 10.000 mahasiswa pulihkan bencana Sumatera
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melepas 10.000 mahasiswa relawan bencana Sumatera dari berbagai perguruan tinggi untuk terjun langsung mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melepas 10.000 mahasiswa relawan bencana Sumatera dari berbagai perguruan tinggi untuk terjun langsung mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Baharuddin di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Kamis, mengatakan pelepasan 10 ribu mahasiswa relawan bencana Sumatera itu dilakukan secara simbolis oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman di Auditorium Unimed.
Kegiatan tersebut, kata dia, bukan sekadar agenda seremonial, tetapi sebagai upaya memastikan keberlanjutan kolaborasi dan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak.
"Kami menyampaikan terima kasih kepada Kemendiktisaintek, seluruh perguruan tinggi peserta, mitra kebencanaan, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya program itu. Semoga Program Mahasiswa Berdampak dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatera Utara Tahun 2026 berjalan lancar dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat," katanya.
Ia menyebutkan keterlibatan mahasiswa juga merupakan bagian dari proses pembelajaran yang utuh, bukan sekadar kegiatan kemanusiaan jangka pendek.
Bagi Unimed, kata dia, kepercayaan itu sejalan dengan komitmen sebagai kampus berdampak, yang menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian integral dari Tridarma Perguruan Tinggi.
"Keterlibatan universitas negeri dan swasta, politeknik, serta institusi kesehatan, dalam program itu menunjukkan bahwa upaya pemulihan bencana membutuhkan kolaborasi lintas institusi dan pendekatan multidisipliner, mulai dari pendidikan, kesehatan, teknologi, hingga pemberdayaan sosial masyarakat," katanya.
Sebelumnya Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman menyebutkan keterlibatan mahasiswa juga merupakan bagian dari proses pembelajaran yang utuh, bukan sekadar kegiatan kemanusiaan jangka pendek.
Setiap kelompok mahasiswa didampingi oleh tim dosen pembimbing yang memiliki kompetensi riset dan inovasi, sehingga penerapan teknologi di lapangan tetap berbasis kajian ilmiah dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Selanjutnya ia menyampaikan pihaknya menyesuaikan kebutuhan daerah terdampak dengan jumlah mahasiswa yang diturunkan.
Penyebaran mahasiswa terbanyak di Aceh yakni di Kabupaten Aceh Tamiang, sementara di Sumatera Utara ada di Kabupaten Tapanuli Selatan, dan di Sumatera Barat adalah di Kabupaten Agam.
Salah satu kekuatan utama program itu adalah penerapan inovasi teknologi tepat guna. Inovasi yang dibawa mahasiswa merupakan hasil riset perguruan tinggi yang disesuaikan dengan kondisi riil masyarakat, bukan solusi generik yang sulit diterapkan di lapangan.
"Program ini menunjukkan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam penanganan isu-isu kebencanaan nasional, tidak hanya melalui riset, tetapi juga aksi nyata di lapangan. Selain itu program ini juga termasuk prioritas dari Presiden Prabowo Subianto yang mendorong generasi muda untuk membawa perubahan bagi kemajuan Indonesia," katanya.




