Mahasiswa UB perkuat ketahanan pangan UMKM melalui startup Capunglam
Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui startup Capunglam Agrinovasi Indonesia berkolaborasi dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Kota Malang menyelenggarakan Workshop Pengolahan Limbah dan Integrated Farming untuk Ketahanan Pangan bagi UMKM di Masa Krisis.

Sumber foto: AH Sugiharto/elshinta.com.
Sumber foto: AH Sugiharto/elshinta.com.
Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui startup Capunglam Agrinovasi Indonesia berkolaborasi dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Kota Malang menyelenggarakan Workshop Pengolahan Limbah dan Integrated Farming untuk Ketahanan Pangan bagi UMKM di Masa Krisis.
Kegiatan yang diikuti oleh 10 UMKM binaan KRKP ini berlangsung di gelar di Gang Kahuripan, Candirenggo, Singosari,
Founder sekaligus Ketua Tim Capunglam, Cahyo Ilham Firmansyah Subagio, mahasiswa fast track S2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB angkatan 2022, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan konsep green entrepreneurship sekaligus memperkuat ketahanan pangan skala komunitas di tengah berbagai ketidakpastian global.
“Sebagai mahasiswa sekaligus pelaku usaha di bidang green entrepreneurship, saya melihat bahwa tantangan krisis ekonomi dan krisis pangan ke depan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Generasi muda, khususnya mahasiswa, perlu ikut terlibat menjadi bagian dari solusi melalui inovasi di sektor pangan,” ujarnya.
Cahyo menambahkan bahwa melalui program ini Capunglam ingin mendorong lahirnya model usaha pangan berkelanjutan yang dapat diterapkan pada skala rumah tangga maupun komunitas.
“Kami ingin memperkenalkan praktik sederhana seperti urban farming, pengolahan limbah organik, hingga integrasi pertanian yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Harapannya mahasiswa dapat menjadi agent of change yang mampu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Dalam workshop tersebut, peserta terlebih dahulu mendapatkan pemaparan mengenai konsep integrated farming dan pengolahan limbah organik sebagai bagian dari sistem ekonomi sirkular.
Materi ini menekankan bahwa limbah rumah tangga maupun usaha dapat diolah kembali menjadi sumber pakan atau pupuk sehingga menciptakan sistem produksi pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tur lahan Capunglam Farm untuk melihat secara langsung implementasi sistem pertanian terpadu yang dikembangkan.
Di lahan tersebut, peserta diperkenalkan pada siklus produksi yang saling terhubung, mulai dari budidaya lele dan ayam, pengolahan limbah organik menggunakan maggot, hingga penanaman sayuran seperti cabai dan sawi sebagai bagian dari ekosistem pangan terpadu.
PIC KRKP Kota Malang, Reza, menjelaskan bahwa penguatan ketahanan pangan skala komunitas menjadi penting bagi Kota Malang yang masih memiliki ketergantungan pasokan pangan dari wilayah sekitar.
Menurutnya, model ekonomi sirkular seperti yang diperkenalkan dalam workshop ini dapat menjadi alternatif solusi bagi masyarakat dan pelaku UMKM.
“Kota Malang memiliki ketergantungan cukup besar terhadap pasokan pangan dari daerah sekitar. Ketika terjadi gangguan distribusi atau krisis, kelompok rumah tangga berpenghasilan rendah dan UMKM skala kecil akan menjadi yang paling rentan. Karena itu, penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas menjadi sangat penting,” jelasnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, AH Sugiharto, Jumat (6/3).




