Top
Begin typing your search above and press return to search.

Menjaga ketahanan pangan mulai dari bangku sekolah

Jam pelajaran sudah usai, namun beberapa siswa justru masih asyik berjibaku di sekolah. Ada yang mengecek kandang ayam, kandang sapi, kandang domba, bahkan lahan pertanian.

Menjaga ketahanan pangan mulai dari bangku sekolah
X

Sumber foto: Antara/elshinta.com

Jam pelajaran sudah usai, namun beberapa siswa justru masih asyik berjibaku di sekolah. Ada yang mengecek kandang ayam, kandang sapi, kandang domba, bahkan lahan pertanian.

Pemandangan itu adalah hal yang lumrah dalam keseharian aktivitas para murid di SMKN 1 Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, sesuai jurusannya masing-masing, yang kemudian bertugas mengawasi bidang yang menjadi tanggung jawabnya.

Aditya Mahendra, siswa kelas 11 jurusan Peternakan di SMKN 1 Plosoklaten, merasa senang dengan keputusannya bersekolah dan mengambil jurusan peternakan di sekolah tersebut, yang membuatnya kaya pengalaman.

Bukan hanya mendapat materi pelajaran, tapi ia juga belajar praktik lapangan. Ia bertugas di bagian peternakan, mengawasi domba.

Saban hari, ia harus memastikan domba dengan berbagai jenis tersebut nutrisinya terpenuhi, terutama dari sisi pakan. Selain itu, kebersihannya juga harus diperhatikan, sehingga domba menjadi sehat.

Pakan yang diberikan untuk domba-domba tersebut juga sudah disediakan di area sekolah. Ada lahan untuk tanaman rumput, sehingga bisa untuk stok pakan.

Domba-domba tersebut juga cukup sehat dan bisa berkembang dengan baik. Ada belasan ekor koleksi yang ada di sekolah itu.

Bagi Aditya, praktik langsung merawat domba sangat bermanfaat. Apalagi, ia juga memiliki delapan ekor kambing di rumah.

Pelajaran yang ia dapatkan di sekolah bisa ia praktikkan langsung, saat merawat kambing di rumah.

"Senang soalnya bisa belajar di sini tentang peternakan. Di rumah juga punya kambing, jadi bisa dipraktikkan langsung di rumah," ujarnya, saat ditemui di SMKN 1 Plosoklaten, Rabu.

Selain merawat domba, ia dengan rekan-rekannya di jurusan peternakan juga dilatih untuk merawat sapi, memerah susu sapi, termasuk membuat pakan.

Para murid juga dikenalkan tentang kesehatan hewan dan langkah antisipasinya, jika ternak mengalami sakit.

Pelajar lainnya, Adinda juga mengaku senang bisa belajar di sekolah negeri itu. Ia mengambil kelas pertanian.

Pelajar yang duduk di bangku kelas 10 tersebut mengungkapkan dalam satu kelas dibagi beberapa tim, dengan anggota 10 anak. Mereka bertugas mengawasi setiap tanaman yang menjadi tanggung jawabnya.

Adinda dan teman-temannya bertugas mengawasi pertumbuhan tanaman bawang prei, mulai dari penanaman, pemupukan, pengairan, hingga panen nantinya.

Untuk lahan, awalnya juga disiapkan, dibuat beberapa bedeng. Lahan untuk tanaman disiapkan lebih tinggi, sehingga aman dari genangan air.

Hingga kini, umur bawang prei yang ditanam oleh para siswa itu sudah sekitar satu bulan. Saban hari, ia dengan rekan-rekannya memantau terus, memastikan tanaman tumbuh dengan baik.

Pada waktunya diberi pupuk, ia dengan rekan-rekannya juga bekerja sama memberikan pupuk. Semua kompak.

Nantinya kerja keras tersebut hasilnya juga untuk para pelajar. Dari pihak sekolah memberikan penghasilan dari hasil jualan ke tim yang bertugas.

"Kalau bibit dan segala kebutuhannya disediakan sekolah, termasuk untuk pupuk dari sekolah. Kami tanggung jawab agar tanaman tumbuh, hingga tahap penjualan," ujarnya.

Kepala SMKN I Plosoklaten Hadi Sugiharto menekankan bahwa di sekolah ini memang memberikan edukasi lapangan secara langsung.

Ia memimpin sekolah itu mulai 2024 dan mencoba menerapkan pola-pola inovatif sesuai dengan jurusan di sekolah.

Sebagai contoh, jurusan pertanian ada lahan yang dibuat menjadi area pertanian dengan beragam tanamannya, misalnya bawang prei maupun terong.

Untuk peternakan ada budi daya ayam petelur omega, ternak domba, ternak sapi, bahkan ternak ikan.

Dengan luas lahan sekitar 10 hektare, di sekolah ini dilengkapi dengan berbagai sarana penunjang kreativitas. Hal ini sekaligus mengasah kemampuan anak ke depannya.

Dengan praktik langsung merupakan langkah nyata bagi siswa untuk belajar, sekaligus berlatih mengambil bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan dari lahan sendiri.

Dengan sekitar 1.600 pelajar di sekolah itu, guru juga selalu memberikan pendampingan ke pelajar. Mereka diberi bekal pelajaran di bangku sekolah serta praktik di lapangan.

Sementara waktu magang ke luar, dari pihak sekolah juga turut mencarikan industri, sesuai dengan kualifikasi masing-masing.

"Sesuai kualifikasi, yang bisa memberikan pembekalan anak-anak. Apa yang mereka sudah dapatkan di sekolah, kami tambahkan ke luar (magang). Lamanya magang 18 minggu," katanya.

Sebagai bentuk pembelajaran langsung, dari sekolah juga bekerja sama dengan dinas terkait, misalnya dinas pertanian, dinas peternakan, sesuai dengan jurusan para pelajar.

Mereka diberi pembekalan dari pihak luar yang benar-benar sesuai bidangnya.

Pada saat bersamaan, guru-guru juga memberikan proyek berbasis edukasi ke para murid, sehingga mereka bisa mengaplikasikan di lapangan, mulai dari proses tanam, hingga pemasaran.

Pihaknya sangat mengapresiasi dukungan dari pemerintah. Terlebih lagi, saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga sudah meresmikan program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP).

Program ini, sejalan dengan langkah sekolah yang juga ingin mendukung ketahanan pangan.

Laboratorium ketahanan pangan

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong sekolah menjadi laboratorium ketahanan pangan. Dirinya juga memimpin langsung kegiatan penanaman tanaman produktif, penaburan benih ikan serta panen serentak bersama ribuan guru dan murid tingkat SMA, SMK, serta SLB se-Jatim, akhir pekan lalu.

Kegiatan yang merupakan implementasi dan penguatan program SIKAP yang saat ini dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Jatim sebagai model pendidikan kontekstual dan berkelanjutan.

Melalui Program SIKAP, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang praktik, pembentukan karakter, serta laboratorium sosial yang melatih kemandirian dan kepedulian peserta didik terhadap isu ketahanan pangan.

Lewat program itu, sekolah harus menjadi ruang belajar yang hidup. Anak-anak belajar teori, sekaligus praktik menanam, merawat, memanen, dan mengelola hasilnya.

Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar strategis pembangunan di Indonesia, termasuk di Jawa Timur. Karena itu, sekolah memiliki peran penting sebagai pusat edukasi dalam menanamkan kesadaran pangan sejak dini, sekaligus menyiapkan generasi yang adaptif menghadapi tantangan masa depan.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire