Top
Begin typing your search above and press return to search.

Prof. Dr. Susanto, MA: Krisis resiliensi generasi, pendidikan harus berbenah

Prof. Dr. Susanto, MA: Krisis resiliensi generasi, pendidikan harus berbenah
X

Orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta Prof Dr. Susanto, MA., di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, beberapa waktu lalu

Guru Besar PTIQ Prof. Dr. Susanto, MA menegaskan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi krisis ketangguhan mental (resiliensi) generasi yang serius akibat disrupsi peradaban. Secara global remaja usia sekolah saat ini tengah menghadapi krisis resiliensi.

Data WHO melaporkan, 1 dari 7 anak remaja usia 10 - 19 tahun mengalami masalah mental. Indonesia sebanyak 15.5 juta menghadapi masalah kesehatan mental (Kemenkes 2024). Singapura 16, 2 persen mengalami depresi atau kecemasan. Amerika serikat 31.9 remaja memgalami tantangan masalah mental dan inggris 25.8 persen mengalami hal yg sama.

Dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta yang berlangsung di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, beberapa waktu lalu, Prof Dr. Susanto, MA menyampaikan bahwa fenomena ini tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan individual, melainkan ancaman sistemik terhadap masa depan bangsa.

Dalam pidato berjudul “Disrupsi Peradaban dan Krisis Resiliensi: Rekonstruksi Paradigma Pembelajaran Pendidikan Islam untuk Membangun Ketangguhan Mental Generasi”, Prof. Susanto menguraikan bahwa perubahan global yang bersifat disruptif telah melahirkan tekanan psikologis baru bagi generasi muda. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, justru muncul paradoks berupa meningkatnya kerentanan mental.

Fenomena krisis resiliensi tersebut oleh Murphy (2018) disebut sebagai strawberry generation yaitu generasi yang tampak cerdas, menarik dan adaptif terhadap perubahan teknologi, namun pada saat yang sama ternyata menyisakan persoalan kerentanan psikologis yaitu mudah rapuh, mudah menyerah, mudah terdistraksi, kurang tahan terhadap tantangan, kurang mandiri, mudah frustrasi dan cenderung memilih solusi instan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Menanggapi istilah strawberry generation, Prof. Susanto menilai bahwa pelabelan tersebut kurang tepat karena menggeneralisasi kelompok usia tertentu. Ia menawarkan pendekatan yang lebih akurat melalui konsep strawberry mentality, yakni kondisi psikologis individu yang rapuh, mudah menyerah, dan cenderung menghindari tantangan.

“Ini bukan persoalan generasi, melainkan persoalan mentalitas yang dapat terjadi pada siapa saja. Bahkan sering kali ditemukan pada individu dengan prestasi akademik tinggi, tetapi tidak tahan menghadapi tekanan,” ujarnya.

Ancaman Sistemik Krisis Resiliensi

Jika tidak segera ditangani, krisis resiliensi akan menimbulkan dampak luas lintas sektor. Prof. Susanto mengidentifikasi sejumlah implikasi strategis:

•Menurunnya kualitas sumber daya manusia dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan global

•Meningkatnya burnout dan rendahnya keterlibatan di dunia kerja

•Lemahnya kapasitas kepemimpinan dalam menghadapi ketidakpastian

•Lonjakan gangguan kesehatan mental pada generasi muda

•Melemahnya kohesi sosial dan meningkatnya potensi konflik

•Menurunnya daya saing bangsa dalam kompetisi global

“Krisis ini berpotensi menggerus fondasi sosial, ekonomi, dan kepemimpinan jika tidak diintervensi melalui sistem pendidikan,” tegasnya.

Sebagai respons, Prof. Susanto menekankan pentingnya transformasi paradigma pendidikan, khususnya pendidikan Islam, dengan menempatkan resiliensi sebagai tujuan utama pembelajaran. Strategi yang ditawarkan meliputi:

1.Penguatan nilai spiritual dan moral, seperti; syukur, sabar, tawakal dan ikhlas sebagai fondasi internal peserta didik

2.Penerapan pembelajaran berbasis tantangan terukur untuk melatih daya tahan mental

3.Pengembangan pembelajaran berbasis masalah guna meningkatkan kemampuan adaptif dan berpikir kritis

4.Pendekatan productive failure yang menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses belajar

5.Integrasi refleksi spiritual untuk membangun kesadaran diri dan regulasi emosi

6.Reformasi sistem evaluasi pendidikan dari orientasi hasil menuju penghargaan terhadap proses dan usaha

Mengapa rasa syukur itu menjadi input yang penting bagi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran?. Karena hasil penelitian Robert Emmons (University of California); menemukan; hubungan langsung antara syukur dan kesuksesan dalam meraih target penting mereka (seperti: akademik, kesehatan dan interpersonal), dibandingkan kelompok yang “fokus pada keluhan”.

Hasil studi Standford University: paparan mendengar “keluhan” selama 30 menit, akan merusak hipokampus; bagian otak untuk memori jangka panjang dan juga membantu regulasi emosi saat berkoordinasi dg amigdala.

Keenam pendekatan ini dari berbagai riset mampu membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan berkarakter.

Menutup orasinya, Prof. Susanto menegaskan bahwa pendidikan harus dimaknai sebagai investasi strategis dalam membangun peradaban, bukan sekadar transfer pengetahuan.

“Jika kita gagal membangun resiliensi, kita akan mewariskan generasi yang rapuh. Namun jika berhasil, kita akan melahirkan generasi yang mampu menghadapi zaman dengan keberanian, kebijaksanaan, dan keteguhan,” pungkasnya.

Transformasi pendidikan berbasis ketangguhan mental menjadi langkah mendesak untuk memastikan generasi masa depan mampu bertahan dan berkembang di tengah disrupsi global yang semakin kompleks. Sebagai kata akhir, “Generasi yang hebat tidak lahir dari air yang tenang, melainkan lahir dari terjangan ombak dan badai,” tambahnya. (Mus)

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire