Top
Begin typing your search above and press return to search.

Psikiater sebut bunuh diri anak bukan aksi serta merta, ada proses panjang

Psikiater sebut bunuh diri anak bukan aksi serta merta, ada proses panjang
X

Psikiater dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ., dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 

Kasus bunuh diri anak yang terjadi di sejumlah daerah kembali menjadi sorotan publik. Psikiater dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ., dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia menegaskan bahwa tindakan mengakhiri hidup pada anak tidak pernah terjadi secara tiba-tiba.

Dalam wawancara Radio Elshinta, Edisi Pagi, Minggu (15/2/2026), dr. Ida menekankan bahwa bunuh diri merupakan hasil dari proses psikologis yang panjang dan kompleks.

“Jangan dibayangkan orang itu ujuk-ujuk bunuh diri. Ada tahapan. Ada ambivalensi, ada rigiditas berpikir, dan ada impulsivitas yang dipicu oleh triggering tertentu,” ujar dr. Ida.

Ia menjelaskan, dalam kajian psikiatri dikenal dua konsep penting, yakni faktor predisposisi dan faktor presipitasi. Faktor predisposisi merupakan kerentanan dasar seperti genetik, pola asuh, pengalaman hidup, stres kronik, hingga minimnya dukungan sosial. Sementara itu, faktor presipitasi adalah pemicu langsung, misalnya pertengkaran, perundungan, atau tekanan tertentu.

“Kita sering terlalu menyederhanakan, misalnya karena dimarahi orang tua lalu bunuh diri. Itu biasanya hanya faktor pencetus. Di baliknya ada faktor yang jauh lebih kompleks,” jelasnya.

Menurut dr. Ida, pada anak-anak kondisi tersebut semakin rentan karena perkembangan otak belum matang sepenuhnya. Bagian frontal cortex yang berfungsi untuk pertimbangan risiko dan pengambilan keputusan masih berkembang hingga usia sekitar 25 tahun.

“Dalam kondisi stres, sistem limbik atau otak emosi menjadi lebih dominan daripada otak logika. Pada anak-anak, kemampuan eksekusinya memang belum matang,” katanya.

Ia juga meluruskan anggapan soal faktor genetik. Kontribusi genetik terhadap kerentanan psikologis, menurutnya, berkisar 10–20 persen dan bukan faktor penentu tunggal.

“Yang diwariskan itu kerentanan psikologisnya, bukan gen bunuh dirinya. Jadi bukan berarti kalau orang tua punya riwayat, anak pasti akan melakukan hal yang sama,” tegasnya.

Lebih lanjut, dr. Ida mengingatkan pentingnya mengenali tanda peringatan pada anak. Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung menunjukkan kesedihan atau menarik diri, anak bisa memperlihatkan perubahan perilaku yang tidak spesifik.

“Perubahan perilaku itu yang paling bisa diamati. Bisa jadi lebih mudah marah, tantrum, prestasi menurun, atau keluhan psikosomatis seperti mual dan muntah sebelum sekolah. Itu bisa jadi warning sign, cry for help,” ujarnya.

Ia juga menyoroti dinamika keluarga, termasuk mekanisme pertahanan diri seperti displacement dan proyeksi. Dalam displacement, emosi negatif orang tua bisa ‘dipindahkan’ kepada anak. Sedangkan proyeksi terjadi ketika masalah pribadi dilimpahkan kepada orang lain.

“Kadang tanpa sadar anak menjadi objek dari emosi orang tua. Padahal tidak ada orang tua yang berniat mencelakai anaknya. Tetapi tekanan hidup dan keterbatasan regulasi emosi bisa membuat respons menjadi berlebihan,” jelasnya.

Menanggapi fenomena global seperti peningkatan bunuh diri anak di Jepang pada era krisis ekonomi 1990-an, dr. Ida menilai bahwa faktor sosial dan ekonomi memang dapat memperburuk situasi, namun tetap tidak berdiri sendiri.

“Bunuh diri itu multifaktor. Ada tinjauan sosiologi, ada tinjauan psikiatri, ada faktor brain, pola asuh, lingkungan, dan nilai-nilai yang dianut. Tidak bisa kita simpulkan satu sebab saja,” katanya.

Ia pun mendorong orang tua untuk terus belajar menyesuaikan pola asuh dengan perkembangan zaman. “Orang tua perlu belajar. Kita tidak bisa hanya memakai pola asuh masa lalu. Tantangan anak hari ini berbeda,” tutup dr. Ida.

Kasus bunuh diri anak menjadi pengingat penting bahwa pencegahan memerlukan peran bersama, mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan sosial, dengan membangun ruang aman dan komunikasi yang sehat bagi anak.

Deddy Ramadhany/Ter

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire