Resmikan Sekolah Rakyat di Banjarbaru., Gus Ipul : SR tempat penjaga asa keluarga

Program Sekolah Rakyat resmi diluncurkan sebagai upaya negara memperluas akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Program unggulan Kementerian Sosial ini dirancang dengan konsep asrama dan pendekatan pembinaan menyeluruh, mulai dari pendidikan formal hingga pembentukan karakter dan kemandirian.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyampaikan bahwa Sekolah Rakyat menjadi ruang penggemblengan bagi anak-anak yang selama ini berada di pinggiran akses pendidikan.
“Sekolah Rakyat adalah kawah Candradimuka, tempat penjaga asa keluarga, (mereka) digembleng, dididik, dan disiapkan untuk memutus mata rantai kemiskinan dan mengubah masa depan keluarganya,” ujar Gus Ipul saat melaporkan capaian penyelenggaraan semester pertama tahun ajaran 2025–2026 kepada Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).
Sebanyak 166 Sekolah Rakyat rintisan kini telah beroperasi di berbagai daerah. Para siswa menjalani pendidikan berasrama dengan rutinitas harian yang terstruktur, tidak hanya dalam jam belajar, tetapi juga dalam pembiasaan hidup sehat, disiplin, dan mandiri.
Proses pendidikan ini diarahkan agar anak-anak tumbuh secara utuh, baik secara akademik, sosial, maupun emosional.
Peserta didik Sekolah Rakyat berasal dari latar belakang keluarga dengan kondisi sosial ekonomi rentan. Data Kementerian Sosial mencatat, 454 siswa sebelumnya belum pernah mengenyam pendidikan, sementara 298 lainnya merupakan anak putus sekolah. Sebagian siswa bahkan belum memiliki kemampuan literasi dasar meski telah berusia remaja.
Di Sekolah Rakyat, potensi mereka dipetakan melalui tes talenta berbasis teknologi, DNA Talent, untuk mengembangkan kemampuan sesuai minat dan bakat masing-masing.
“Pendidikan formal dijalankan dengan kurikulum yang sangat personal. Dibimbing oleh guru-guru yang tersertifikasi. Di asrama, anak-anak dibimbing oleh wali asuh dan wali asrama dalam pembiasaan hidup sehat, tertib, disiplin, dan mandiri,” ucap Gus Ipul.
Memasuki enam bulan pertama, perubahan positif mulai terlihat, baik dari aspek kesehatan maupun kepercayaan diri siswa. Pada acara peluncuran Sekolah Rakyat, sejumlah siswa menampilkan bakat mereka di hadapan Presiden.
“Ketika anak-anak merasa aman dan diperhatikan, mereka tumbuh. Tadi, Bapak Presiden, yang tampil di atas panggung itu semuanya adalah siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Dampak program ini juga dirasakan keluarga siswa. Orang tua menyampaikan berbagai perubahan perilaku positif anak saat kembali ke rumah.
“Banyak pesan mengharukan yang kami terima dari para orang tua. (seperti) Terima kasih sekarang anak kami lebih rajin beribadah, bangun pagi tanpa dibangunkan, mau membantu pekerjaan rumah, tidak lagi menyendiri, mau bermain dengan teman sekitar di rumah, dan lebih percaya diri,” sambungnya.
Gus Ipul menegaskan Sekolah Rakyat merupakan keputusan strategis negara dalam menanam harapan jangka panjang.
“Kelak ketika anak-anak di tepian sungai, lereng bukit, dan sudut-sudut negeri berdiri sejajar di tengah bangsa ini, orang akan berkata pelan: di masa itu pernah ada seorang Presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto,” ujarnya.
Selain pendidikan gratis berasrama, Sekolah Rakyat juga terintegrasi dengan berbagai program pemerintah, seperti Cek Kesehatan Gratis, Makan Bergizi Gratis, jaminan kesehatan PBI-JKN, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta Program Tiga Juta Rumah bagi keluarga siswa.
Keluarga penerima manfaat turut didorong mengikuti program pemberdayaan sosial ekonomi agar mampu mandiri.
Hingga kini, Sekolah Rakyat telah menampung 15.945 siswa dengan dukungan 2.218 guru dan 4.889 tenaga kependidikan di jenjang SD, SMP, dan SMA atau sederajat. Ke depan, pemerintah menargetkan pembangunan 104 gedung permanen tahun ini dan pengembangan hingga 500 Sekolah Rakyat dengan kapasitas masing-masing 1.000 siswa.
Program ini juga membuka jalur beasiswa dan penempatan kerja melalui kerja sama lintas kementerian dan perguruan tinggi.
Penulis: Rizki Rian Saputra/Ter




