ViGenk: Polyworking bukan hanya kerja sampingan, ini risiko dan cara jalankan

Fenomena menjalani lebih dari satu pekerjaan dalam waktu bersamaan atau dikenal dengan istilah polyworking kian banyak dilakukan, terutama oleh generasi muda. Namun, strategi kerja ini dinilai tidak selalu sehat jika tidak dikelola dengan sistem yang tepat.
System Management Expert sekaligus Founder Xperteam Consultant, Tantri, menjelaskan polyworking berbeda dengan kerja sampingan atau side job. Menurutnya, polyworking adalah kondisi ketika seseorang menjalani lebih dari satu peran kerja yang sama-sama diperlakukan sebagai pekerjaan utama.
“Polyworking itu bukan kerja tambahan. Setiap peran punya tanggung jawab, target, dan identitas profesional yang setara. Jadi tidak ada istilah main job dan side job,” ujar Tantri dalam wawancara di segmen ViGenk, Visi Generasi Kini, di Radio Elshinta, Jumat (23/1/2026).
Ia menegaskan, perbedaan utama polyworking dan kerja sampingan terletak pada keterlibatan emosional dan profesional. Kerja sampingan umumnya berfokus pada penambahan penghasilan dan bersifat sementara, sementara polyworking menuntut komitmen yang jauh lebih besar.
“Kalau kerja sampingan, fokusnya income. Tapi polyworking itu beyond income. Biasanya ada ambisi, keinginan berkembang, atau dorongan untuk membuktikan kapasitas diri,” kata Tantri kepada News Anchor Telni Rusmitantri.
Tantri menyebut, maraknya polyworking di kalangan Gen Z dan usia produktif tidak lepas dari tekanan ekonomi. Kenaikan biaya hidup yang tidak sebanding dengan pertumbuhan gaji membuat banyak orang merasa satu pekerjaan tidak lagi cukup.
“Terjadi ketimpangan antara pertumbuhan pendapatan dan biaya hidup. Selain itu, sistem kerja yang makin fleksibel remote, freelance, dan berbasis proyek membuka peluang orang menjalani banyak peran sekaligus,” tambahnya.
Meski demikian, Tantri mengingatkan polyworking memiliki risiko tinggi, terutama konflik peran dan kelelahan mental. Ia menyebut, polyworking bisa berubah dari peluang menjadi beban ketika jumlah peran bertambah, tetapi cara pengelolaannya tidak ikut berubah.
“Ada tanda-tanda yang sering tidak disadari. Produktif di siang hari, tapi emosinya bocor di malam hari. Mudah tersinggung, sulit fokus, dan mulai bingung menentukan prioritas,” jelasnya.
Menurut Tantri, risiko paling serius adalah burnout yang terjadi secara perlahan. Dampaknya bisa berupa penurunan performa kerja, kualitas pengambilan keputusan yang menurun, hingga terganggunya kesehatan mental.
Agar polyworking tetap sehat, Tantri menyarankan adanya satu peran utama, sementara peran lainnya bersifat pendukung. Ia juga menekankan pentingnya manajemen energi dibanding sekadar manajemen waktu.
“Energi itu aset. Waktu bisa dijadwalkan, tapi energi harus dijaga. Kalau energi habis, seberapa rapi pun jadwalnya, hasilnya tetap tidak optimal,” katanya.
Selain itu, setiap peran dalam polyworking harus memiliki output yang jelas dan terukur. Pekerjaan tanpa ukuran yang jelas justru berpotensi menjadi yang paling menguras tenaga.
“Kalau output tidak bisa diukur, biasanya itu pekerjaan yang paling melelahkan,” ujar Tantri.
Ia juga menyarankan evaluasi rutin, setidaknya mingguan, untuk menilai peran mana yang memberi dampak positif dan mana yang justru menguras energi. Dari evaluasi itu, seseorang bisa memutuskan apakah sebuah peran perlu dilanjutkan, disesuaikan, atau dilepas.
“Polyworking bukan soal seberapa banyak pekerjaan yang bisa kita ambil, tapi seberapa sadar kita mengelolanya,” pungkas Tantri.
Dedy Ramadhany/Ter




