Bahlil dinilai sukses jaga pasokan BBM lebaran 2026, kekhawatiran publik terbukti tak terjadi

Elshinta/ ADP
Elshinta/ ADP
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dinilai berhasil meredam kekhawatiran publik terkait potensi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) selama momentum Lebaran 2026.
Sebelumnya, masyarakat sempat cemas lantaran cadangan operasional BBM nasional diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 20 hari, terlebih di tengah tensi geopolitik global yang meningkat. Bahkan, sempat muncul kekhawatiran stok BBM akan menipis bertepatan dengan arus mudik dan balik Lebaran. Namun, hingga saat ini pasokan energi tetap aman dan terkendali.
Peneliti dari Lab Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, mengapresiasi keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan BBM selama periode krusial tersebut.
“Ya memang karena sudah event tahunan. Artinya secara pasokan mungkin pemerintah sudah punya jam terbang untuk menjamin keterisian dan harga dari BBM,” ujar Ary dalam wawancara, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, pola konsumsi BBM saat Lebaran relatif dapat diprediksi karena hanya terjadi dalam periode singkat, umumnya sekitar satu pekan selama arus mudik dan balik. Kondisi ini dinilai memudahkan pemerintah dalam mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi.
“Kalau Lebaran kan memang penambahan karena mudik ya, itu juga dalam kategori mungkin semingguan, artinya dari berangkat sampai pulang,” kata dia.
Selain faktor perencanaan, perilaku masyarakat juga dinilai turut berkontribusi terhadap stabilitas pasokan BBM. Kesadaran untuk menggunakan BBM secara lebih bijak disebut membantu menekan potensi lonjakan konsumsi.
“Kalau masyarakat sudah mulai mengendalikan diri untuk tidak terlalu menghambur-hamburkan, manfaatnya terasa. Saya lihat di beberapa daerah, kondisi sudah tidak terlalu antre BBM,” ujarnya.
Meski demikian, Ary mengingatkan bahwa ketahanan energi nasional masih menghadapi tantangan mendasar, terutama terkait kapasitas cadangan BBM yang terbatas. Saat ini, cadangan energi Indonesia berada di kisaran 20 hingga 28 hari, jauh di bawah negara seperti Jepang dan Singapura yang memiliki cadangan hingga berbulan-bulan.
Karena itu, ia menilai rencana pemerintah untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari menjadi langkah strategis yang perlu segera direalisasikan.
“Kalau bisa 90 hari sudah luar biasa. Artinya kalau harga pasar naik turun, kita masih punya waktu dan cadangan dari pengadaan sebelumnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ary juga menyoroti kontribusi program biodiesel seperti B50 yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan impor, khususnya untuk solar. Meski demikian, untuk kebutuhan bensin, Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Dengan kombinasi pengalaman pemerintah dalam mengelola kebutuhan energi tahunan, pola konsumsi yang terukur, serta dukungan kebijakan energi yang terus berjalan, keberhasilan menjaga pasokan BBM selama Lebaran 2026 dinilai menjadi sinyal positif bagi penguatan ketahanan energi nasional ke depan. (Arie Dwi Prasetyo)




