Top
Begin typing your search above and press return to search.

Hadapi ancaman krisis global, Amin Ak ajak warga Lumajang perkokoh pilar kebangsaan

Di bawah langit Ranuwurung Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang Jawa Timur yang tampak tenang, sebuah peringatan keras menggema.

Hadapi ancaman krisis global, Amin Ak ajak warga Lumajang perkokoh pilar kebangsaan
X

Sumber foto: Efendi Murdiono/elshinta.com.

Di bawah langit Ranuwurung Kecamatan Randuagung Kabupaten Lumajang Jawa Timur yang tampak tenang, sebuah peringatan keras menggema. Di hadapan 150 tokoh masyarakat, Anggota MPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak, mengungkapkan situasi geopolitik dan geoekonomi global yang bisa berdampak ke Indonesia.

Saat menggelar sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Balai Desa Ranuwurung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, Minggu (15/3/2026), Amin membeberkan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini telah memicu kenaikan harga minyak dunia. Hal ini secara otomatis membengkakkan biaya subsidi energi dan harga BBM di dalam negeri.

Ia menjelaskan, ketika harga bahan bakar naik, ongkos kirim barang menggunakan truk dan kapal pun melonjak, sehingga harga kebutuhan pokok seperti beras, cabai, hingga minyak goreng di pasar ikut melambung. Selain itu, gangguan pada jalur perdagangan global membuat bahan baku impor seperti gandum untuk mi instan atau kedelai untuk tempe menjadi langka dan mahal.

“Kenaikan biaya belanja sehari-hari akibat volatilitas harga energi dan macetnya rantai pasok global menjadi 'hantu' baru yang mengancam ketahanan sosial ekonomi dan politik nasional,” tegasnya.

Kenaikan biaya bahan baku industri yang tak terkendali berisiko memicu efek domino, mulai dari gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga melambungnya harga kebutuhan pokok. Dalam situasi "perut lapar" seperti ini, masyarakat menjadi lahan basah bagi provokasi.

"Saat ekonomi sulit, biasanya ada pihak-pihak yang memancing di air keruh. Mereka ingin mengoyak persatuan kita dengan narasi adu domba," ujarnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono, Senin (16/3).

Di tengah kondisi tersebut, Amin mengajak masyarakat untuk kembali mengingat dan menjaga erat "obat penawar" milik bangsa ini yang sering terlupakan, yakni Empat Pilar Kebangsaan. Baginya, Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika adalah benteng terakhir yang menjaga kita agar tidak runtuh berkeping-keping.

Keempat pilar kebangsaan ini sejatinya adalah fondasi keselamatan bangsa dalam mengarungi tantangan ke depan. Pancasila hadir sebagai kompas moral agar kita tetap peduli sesama di masa sulit, sementara UUD Negara Republik Indonesia 1945 menjadi aturan main yang menjamin setiap kebijakan pemerintah tetap setia membela rakyat kecil. Di sisi lain, menjaga keutuhan NKRI adalah kewajiban mutlak, sedangkan semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi lem perekat yang mengubah perbedaan menjadi kekuatan besar untuk menghadapi krisis bersama-sama.

Amin menekankan bahwa sejarah membuktikan bangsa ini selamat dari berbagai krisis bukan karena moncong senjata, melainkan karena social capital atau modal sosial. Nilai gotong royong adalah survival strategy yang paling ampuh.

Lumbung Pangan Pertahanan Terbaik

Menariknya, Amin menyoroti potensi lokal Lumajang. Di tengah ketergantungan pada bahan baku impor, kekayaan agraris Lumajang harus menjadi garda depan. Ia mengajak masyarakat untuk mengaktifkan kembali lumbung-lumbung pangan desa dan solidaritas ala masyarakat Lumajang, terutama agar industri kecil tetap bisa "bernapas" meski terjepit biaya produksi yang kian mencekik.

"Ketahanan pangan adalah pertahanan terbaik," tegasnya.

Ia berargumen bahwa jika masyarakat mandiri secara ekonomi dan pangan, maka provokasi apa pun tidak akan mempan. Dengan mengoptimalkan potensi agraris seperti Pisang Agung dan Ubi Kayu, Lumajang bisa menjadi daerah yang mandiri. Keduanya menjadi tepung merupakan sumber karbohidrat yang paling tahan banting terhadap cuaca ekstrem.

“Masyarakat Lumajang memiliki Tradisi Pethikan atau syukur panen dan Budaya Gugur Gunung (gotong royong) dalam mengelola lahan tidur. Ini bisa menjadi alat bersama menghindari ancaman krisis,” tambahnya.

Di akhir sosialisasi, Amin mengajak warga Lumajang untuk kritis terhadap informasi di media sosial yang bertujuan membelah bangsa. Ia pun memberikan analogi yang menarik.

"Indonesia adalah rumah besar kita. Jika ada bagian bangunan yang rapuh karena badai ekonomi, tugas kita adalah memperbaikinya bersama, bukan malah membakar rumahnya," ujarnya.

Di tengah mendung geopolitik yang kian pekat, pesan dari Randuagung ini jelas: solidaritas dan soliditas adalah mata uang yang paling berharga saat ini. Lebih berharga dari dolar, lebih kuat dari sekadar retorika.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire