Pengamat: Prabowo serukan persatuan di hari raya hadapi situasi global
Pengamat politik Iwan Setiawan menyebut Presiden Prabowo Subianto menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk bergotong royong menghadapi situasi global yang tidak pasti saat menggelar griya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Sabtu (21/3).

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Pengamat politik Iwan Setiawan menyebut Presiden Prabowo Subianto menyerukan kepada seluruh elemen bangsa untuk bergotong royong menghadapi situasi global yang tidak pasti saat menggelar griya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Sabtu (21/3).
Iwan yang juga Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu mengatakan elite politik sebagai bagian dari elemen bangsa dapat memanfaatkan momentum Lebaran di Istana untuk membicarakan berbagai kebijakan, baik politik lokal maupun global, dalam suasana kebersamaan dan silaturahmi, meskipun terdapat perbedaan ideologi dan posisi politik di antara para tokoh tersebut.
"Kalau kita lihat, Presiden Prabowo mewanti-wanti semua elemen bangsa bersatu dan bergotong royong dalam menghadapi situasi global yang tidak pasti seperti saat ini. Tekanan ekonomi efek perang AS-Israel dengan Iran tidak bisa dianggap main-main. Prabowo ingin semua energi dari semua pihak difokuskan untuk menghadapi situasi seperti ini. Baik itu yang berada dalam koalisi dan pendukung pemerintah, maupun yang berada di luar pemerintahan," katanya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Langkah Prabowo merangkul para tokoh tersebut pada momentum Lebaran, menurut dia, merupakan strategi komunikasi politik yang dapat disebut "Diplomasi Politik Ketupat Lebaran Ala Prabowo".
"Memanfaatkan momentum lebaran atau Hari Raya Idul Fitri untuk membangun komunikasi yang konstruktif dengan berbagai kalangan, tokoh politik, pejabat dan tokoh masyarakat sangat bagus dan produktif. Ada perbedaan dengan pertemuan dan dialektika di ruang yang lain," ujarnya.
"Yang di dalam pemerintahan harus fokus dan bekerja mati-matian untuk mensukseskan program-program pemerintah serta mengantisipasi dan menghadapi situasi ekonomi yang tidak pasti," lanjutnya.
Sementara itu, partai dan kelompok yang di luar pemerintahan juga harus memberikan kontribusi dalam bentuk kritik yang konstruktif, pengawasan, dan ide penyeimbang untuk kebijakan dan program pemerintah tersebut.
Iwan menilai second opinion pada sumbangsih pemikiran dan tawaran solusi dari pihak luar pemerintahan sangat penting untuk pemerintah juga dalam menjalankan program dan evaluasi yang konstruktif.
Hal itu dapat dilihat saat Presiden Prabowo mengundang Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Istana Kepresidenan pada Kamis (19/3).
"Sebelumnya juga kita melihat, Presiden Prabowo juga sudah mengundang dan meminta masukan kepada para mantan presiden dan wakil presiden terkait Indonesia menghadapi efek perang dan situasi global. Meskipun, Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bertemu Prabowo pada waktu yang berbeda,” ucapnya.
Dalam harmoni kepemimpinan nasional pada konteks komunikasi politik, Iwan menyimpulkan Presiden Prabowo sebagai seorang pemimpin yang terbukti kematangannya secara politik.
"Dalam situasi seperti ini, Prabowo menunjukkan kedewasaan politik. Merangkul dan akomodatif terhadap semua pihak, baik koalisi maupun kelompok yang posisi politiknya berbeda. Prabowo mengutamakan persatuan dan kesatuan antar elite politik, tokoh, dan semua elemen bangsa dalam membangun dan memajukan Indonesia, daripada membuat peta konflik," tuturnya.




