Stabilitas RI di tengah gejolak global
Dave Laksono optimistis ekonomi tetap terjaga, pengamat ingatkan risiko global dan tantangan domestik perlu diantisipasi serius.

Elshinta/ ADP
Elshinta/ ADP
Wakil Ketua Komisi I DPR RI Fraksi Partai Golkar, Dave Laksono, menyatakan optimisme terhadap ketahanan Indonesia menghadapi dinamika global yang semakin tidak pasti. Hal itu ia sampaikan dalam Seminar Nasional 2026 bertema Dynamic Resilience: Menjaga Stabilitas Pembangunan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global di Jakarta.
Menurut Dave, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencatat Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Triwulan III 2025 tetap terjaga di tengah tekanan eksternal seperti perang tarif, fragmentasi rantai pasok, serta eskalasi ketegangan geopolitik.
“Berbagai risiko global tetap harus diwaspadai, mulai dari tarif impor Amerika Serikat hingga konfrontasi geoekonomi,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah terus berupaya menjaga kepercayaan publik dan investor melalui transformasi regulasi serta penguatan koordinasi kebijakan antar-lembaga.
Meski demikian, sejumlah laporan internasional menunjukkan bahwa risiko global belum mereda. Global Risks Report 2025 dari World Economic Forum mencatat meningkatnya risiko misinformasi, polarisasi, serta ketegangan geopolitik dalam beberapa tahun ke depan.
Sementara laporan Indonesia Economic Prospects yang dirilis World Bank menekankan bahwa prospek pertumbuhan Indonesia tetap positif, namun sangat bergantung pada konsistensi reformasi dan stabilitas global.
Laporan investasi bersama AmCham Indonesia dan U.S. Chamber of Commerce juga menyoroti pentingnya kepastian implementasi kebijakan, bukan hanya desain regulasi.
Pengamat ekonomi yang dihubungi secara terpisah menilai, stabilitas domestik memang relatif terjaga, namun tekanan eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan volatilitas harga komoditas tetap berpotensi memengaruhi pertumbuhan.
Dave juga menekankan pentingnya prinsip politik luar negeri bebas dan aktif dalam menghadapi dinamika global, termasuk isu Timur Tengah dan fragmentasi geopolitik.
Namun sejumlah analis hubungan internasional mengingatkan bahwa posisi Indonesia di tengah rivalitas global membutuhkan keseimbangan diplomasi yang konsisten agar tidak menimbulkan risiko persepsi keberpihakan.
Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) Kosgoro 1957, HR Agung Laksono, dalam kesempatan yang sama menyatakan bahwa kepastian global memang sulit dicapai, namun kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas utama. (Arie Dwi Prasetyo)




