Top
Begin typing your search above and press return to search.

35 ribu orang bakal ramaikan Tawur Agung di Candi Prambanan

Sebanyak 35 orang diperkirakan meramaikan upacara Tawur Agung Kesanga Nasional 2026 rencananya digelar di Candi Prambanan, perbatasan Jawa Tengah-DIY (Klaten-Sleman) pada 18 Maret 2026.

35 ribu orang bakal ramaikan Tawur Agung di Candi Prambanan
X

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Sebanyak 35 orang diperkirakan meramaikan upacara Tawur Agung Kesanga Nasional 2026 rencananya digelar di Candi Prambanan, perbatasan Jawa Tengah-DIY (Klaten-Sleman) pada 18 Maret 2026.

Ketua Panitia Tawur Agung Nasional 2026 Bibit Hariadi di Semarang, Kamis, mengatakan rangkaian kegiatan itu dimulai sejak 8 Maret 2026.

Agenda utamanya akan digelar di pelataran Wisnu Mandala, Kompleks Candi Prambanan, Rabu (18/3) mendatang, atau sehari sebelum Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, yang jatuh pada Kamis (19/3).

Selain ritual, kreativitas generasi muda Jateng akan tampil melalui ogoh-ogoh, yakni sekitar enam ogoh-ogoh direncanakan ikut pawai budaya di Prambanan.

"Ogoh-ogoh ini karya anak-anak muda Jawa Tengah. Ini kreativitas lokal, sekaligus daya tarik wisata," katanya saat melakukan audiensi dengan Gubernur Jateng.

Berdasarkan pengalaman sebelumnya, panitia memperkirakan kehadiran 30.000 hingga 35.000 orang dari berbagai daerah, mulai dari Jawa, Lampung, hingga Bali.

Skala tersebut membuat Tawur Agung dipandang memiliki efek berganda, yakni di satu sisi sebagai ritual spiritual umat Hindu, di sisi lain sebagai magnet pariwisata dan etalase budaya Jateng.

Menurut dia, pemilihan Candi Prambanan memiliki makna strategis selain nilai historis dan spiritual, yakni lokasi di perbatasan DIY-Jateng dinilai mampu memperluas dampak ekonomi dan wisata.

"Kami ingin mengangkat budaya Jawa Tengah. Tidak meninggalkan tradisi, tetapi justru menghidupkannya," kata Bibit.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jateng Tri Wahono menegaskan bahwa Tawur Agung di Prambanan tidak dimaksudkan meniru Bali, melainkan menampilkan identitas Jateng.

Gunungan, simbol yang lekat dengan tradisi Jawa, akan kembali dihadirkan sehingga nilai wilujengan khas Jawa pun menjadi bagian dari nuansa upacara.

"Kami tidak pernah mengangkat konsep Bali. Jawa Tengah punya tradisi sendiri. Gunungan menjadi ikon budaya kita, berkahnya nanti dibagi bersama," katanya.

Perayaan Hari Suci Nyepi tahun ini mengusung tema "Vasudaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga" yang menekankan nilai persaudaraan universal, toleransi, serta tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian bumi.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyampaikan akan mendukung penuh penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Dukungan pemerintah tidak berhenti pada aspek teknis penyelenggaraan, tetapi juga menitikberatkan pada empat hal penting, yakni kesakralan ritual, ketertiban acara, keamanan peserta, dan kelestarian kawasan cagar budaya.

Ia berharap, gaung kegiatan tersebut dapat memperkuat citra Jateng sebagai provinsi yang inklusif dan berbudaya.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire