Akademisi: Nyepi dari keheningan menuju refleksi global
Akademisi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Bali Dr Ida Made Windya menyatakan perayaan Nyepi tahun ini bermakna dari realitas keheningan menuju refleksi global.

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Akademisi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Bali Dr Ida Made Windya menyatakan perayaan Nyepi tahun ini bermakna dari realitas keheningan menuju refleksi global.
"Pada akhirnya, Nyepi bukan sekadar hari sunyi. Ia adalah kritik diam terhadap gaya hidup modern yang serba cepat dan konsumtif. Nyepi mengajarkan dalam keheningan, manusia justru dapat menemukan arah," kata Ida Made Windya di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Rabu.
Di saat dunia terus bergerak tanpa henti, Nyepi mengingatkan satu hal mendasar, yakni kadang untuk benar-benar maju, manusia perlu belajar berhenti.
Ia mengatakan di tengah derasnya arus teknologi dan media sosial yang nyaris tanpa jeda, Nyepi hadir sebagai anomali. Saat dunia bergerak cepat, umat Hindu, khususnya di Bali justru memilih berhenti total. Tidak ada aktivitas, tidak ada perjalanan, tidak ada hiburan, bahkan cahaya pun diredupkan.
Keheningan ini, kata dia, bukan sekadar ritual tahunan, melainkan mengandung makna mendalam yang tetap relevan, bahkan semakin penting dalam kehidupan modern.
Catur Brata Penyepian sebagai inti Nyepi mengajarkan pengendalian diri secara menyeluruh: menahan hawa nafsu, menghentikan aktivitas, membatasi mobilitas, dan mengendalikan kesenangan.
"Di era digital yang penuh distraksi, nilai ini terasa kontras sekaligus dibutuhkan. Generasi muda yang hidup dalam tekanan notifikasi, media sosial, dan tuntutan eksistensi mulai melihat Nyepi bukan lagi sebagai kewajiban semata, tetapi sebagai kebutuhan. Keheningan dimaknai sebagai ruang untuk bernafas, menjauh dari kebisingan digital, dan kembali mengenal diri sendiri," kata dia.
Windya lebih jauh mengungkapkan fenomena tersebut melahirkan interpretasi baru, yakni Nyepi sebagai bentuk detoks digital. Selama satu hari, keterputusan dari gawai dan internet bukan lagi dianggap kehilangan, melainkan kesempatan untuk memulihkan kejernihan pikiran.
"Dalam situasi dimana kesehatan mental menjadi isu global, keheningan Nyepi menawarkan pendekatan yang sederhana, namun mendalam, suasana hening dan sunyi sebagai bentuk penyembuhan," papar dia.
Namun, di sisi lain, kata dia, dinamika sosial menunjukkan adanya pergeseran makna. Perayaan Ogoh-ogoh yang berlangsung menjelang Nyepi semakin meriah dan atraktif. Kreativitas seni, kompetisi antar-banjar, hingga sorotan media sosial menjadikan ogoh-ogoh sebagai pusat perhatian publik.
Tidak sedikit generasi muda yang lebih antusias terhadap kemeriahan ini dibandingkan makna hening yang menyusul keesokan harinya.
Pergeseran ini memunculkan pertanyaan apakah Nyepi masih mempertahankan nilai spiritualnya, atau kah mulai bergeser menjadi sekadar tradisi budaya? Kenyataannya, keduanya berjalan berdampingan.
Bagi sebagian umat, Nyepi tetap menjadi momentum sakral untuk introspeksi dan penyucian diri.
Namun, bagi sebagian lainnya, pemaknaan itu mulai menipis, tergantikan oleh aspek visual dan perayaan. "Masalahnya bukan pada keberadaan ogoh-ogoh itu sendiri, melainkan pada hilangnya pemahaman filosofis di balik simbol tersebut," katanya.
Padahal, dalam kerangka ajaran Hindu, ogoh-ogoh melambangkan unsur energi negatif (bhuta kala) yang harus dinetralisasi sebelum memasuki keheningan-kesunyian.
Artinya, kemeriahan (ramya) dan keheningan (sunya) bukan dua hal yang bertentangan, melainkan satu rangkaian proses spiritual, yaitu dari ramya ke sunya. Ketika makna ini dipahami, tradisi justru menjadi pintu masuk menuju kesadaran, bukan pengalih perhatian.
Lebih jauh, Nyepi juga menyimpan pesan universal yang melampaui batas agama dan budaya.
Dalam satu hari, penghentian aktivitas manusia memberikan dampak nyata terhadap lingkungan: polusi menurun, langit menjadi lebih jernih, dan alam seolah diberi kesempatan untuk bernapas.
Prinsip ini sejalan dengan nilai Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
"Di tengah krisis lingkungan global, Nyepi dapat dibaca sebagai 'eksperimen ekologis' yang menunjukkan betapa besar pengaruh aktivitas manusia terhadap bumi. Sementara itu, dalam konteks kesehatan mental, keheningan Nyepi menjadi refleksi kolektif atas kehidupan modern yang terlalu bising bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis," pungkas Ida Made Windya.




