Fenomena back to religion: Ketika anak muda mulai religius
Fenomena back to religion di kalangan anak muda menunjukkan meningkatnya minat religius, dipengaruhi media sosial, krisis akan makna, dan tren hijrah.

Apa itu fenomena back to religion? (Sumber: Kelurahan Wirokerten)
Apa itu fenomena back to religion? (Sumber: Kelurahan Wirokerten)
Fenomena back to religion merupakan masa ketika anak muda di era sekarang mulai religius beberapa tahun terakhir. Banyak temuan yang menunjukkan adanya peningkatan minat generasi muda terhadap agama, baik dalam bentuk praktik ibadah, pencarian makna hidup, hingga keterlibatan dalam komunitas keagamaan digital. Di tengah arus modernisasi, globalisasi, dan disrupsi teknologi, agama kembali menjadi rujukan penting bagi anak muda dalam membangun identitas, nilai, dan arah hidup.
Tren ini tidak muncul secara tiba-tiba. Perubahan lanskap media, tekanan sosial-ekonomi, serta krisis makna di era digital menjadi faktor penting yang mendorong generasi muda untuk kembali mendekat pada nilai-nilai spiritual. Berikut ini pembahasan komprehensif fenomena back to religion di kalangan anak muda Indonesia.
Apa Itu fenomena back to religion?
Fenomena back to religion merujuk pada kecenderungan individu, khususnya generasi muda, untuk kembali mendekatkan diri pada agama setelah mengalami fase jarak atau ketidakpedulian terhadap nilai-nilai religius. Bentuknya beragam, mulai dari peningkatan intensitas ibadah, ketertarikan mengikuti kajian, konsumsi konten dakwah digital, hingga perubahan gaya hidup yang lebih religius.
Di Indonesia, fenomena ini sering diasosiasikan dengan tren hijrah, meningkatnya minat mondok di pesantren, serta maraknya konten keagamaan di media sosial. Transformasi ini tidak lepas dari peran ruang digital yang memudahkan akses terhadap pengetahuan agama sekaligus membentuk pola keberagamaan baru.
Anak muda dan religiusitasnya
1. Anak muda Indonesia paling religius di ASEAN
Survei The ISEAS oleh Yusof Ishak Institute pada 2024 terhadap 3.081 mahasiswa di enam negara ASEAN menunjukkan bahwa 95,3 persen anak muda Indonesia menganggap agama sebagai hal yang penting dalam hidup, menjadikan Indonesia sebagai negara paling religius di kawasan Asia Tenggara.
2. Indeks religiusitas Indonesia makin meningkat
Kementerian Agama RI melalui Indeks Religiusitas 2024 mencatat skor 70,91 dan masuk kategori “tinggi”, meningkat dari tahun sebelumnya. Meski demikian, skor religiusitas generasi Z tercatat sedikit lebih rendah dibanding generasi lebih tua, sehingga pembinaan keagamaan pada kelompok usia muda menjadi perhatian penting.
3. Minat mondok di pesantren semakin tinggi
Riset Alvara Research Center pada 2025 menunjukkan 60,9 persen Gen Z tertarik untuk mondok di pesantren, tidak hanya untuk mendalami agama, tetapi juga ilmu umum seperti sains, ekonomi, dan teknologi.
4. Media Sosial sumber utama belajar agama
Alvara Research Center mencatat bahwa 98 persen Gen Z terkoneksi dengan dunia digital, dan mayoritas memperoleh pengetahuan keagamaan dari media sosial. Fenomena ini melahirkan istilah algorithmic religion, yaitu orientasi beragama yang dibentuk oleh algoritma platform digital.
Faktor pendorong fenomena back to religion di kalangan anak muda
1. Krisis makna di era digital
Tekanan akademik, persaingan kerja, serta kebanjiran informasi di media sosial memicu kegelisahan eksistensial hingga identitas diri. Dalam situasi ini, agama menjadi sumber ketenangan, arah hidup, dan stabilitas emosional.
2. Peran media sosial dan dakwah digital
Platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok memudahkan anak muda mengakses ceramah, kajian, dan konten reflektif keagamaan. Tokoh-tokoh agama yang aktif di media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk kesadaran religius generasi muda.
3. Meningkatnya kesadaran kesehatan mental
Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional menunjukkan sekitar 17 juta remaja Indonesia mengalami persoalan kesehatan mental. Dalam konteks ini, agama sering dipandang sebagai sumber coping mechanism untuk mengatasi stres, kecemasan, dan ketidakpastian.
4. Pencarian identitas dan komunitas
Di tengah fragmentasi sosial, komunitas keagamaan menawarkan rasa memiliki, solidaritas, serta identitas yang kuat. Hal ini menjadi magnet tersendiri bagi generasi muda yang sedang mencari jati diri.
5. Pendidikan agama dengan pendekatan logis
Selain dorongan spiritual dan sosial, fenomena back to religion di kalangan anak muda juga dipengaruhi oleh perubahan cara berpikir generasi muda yang semakin rasional, kritis, dan berbasis logika. Generasi Z dan generasi Alpha tumbuh di era digital dengan akses luas terhadap informasi, sehingga terbiasa mempertanyakan, memverifikasi, dan menganalisis sebelum menerima suatu gagasan, termasuk ajaran keagamaan.
Survei Alvara Research Center (2023) menunjukkan bahwa generasi Z Indonesia memiliki karakter utama sebagai logical thinker, yaitu cenderung mengutamakan nalar, data, dan argumentasi rasional dalam mengambil keputusan. Mereka lebih menerima penjelasan yang sistematis, masuk akal, dan berbasis bukti dibandingkan doktrin normatif tanpa argumentasi.
Dinamika Baru
Fenomena back to religion pada anak muda tidak selalu identik dengan konservatisme. Banyak riset menunjukkan bahwa generasi Z cenderung religius, tetapi tetap terbuka, toleran, dan kritis. Survei Kementerian Agama 2025 bahkan menyebut Gen Z sebagai generasi paling toleran dan memiliki kemampuan membaca Alquran tertinggi.
Artinya, kebangkitan religiusitas ini lebih bersifat reflektif dan personal, bukan sekadar formalistik. Anak muda memadukan nilai agama dengan rasionalitas, sains, dan kehidupan modern.
Tantangan fenomena ini
1. Risiko Polarisasi dan Informasi Bias
Ketergantungan pada algoritma media sosial berpotensi menciptakan ruang gema (echo chamber) yang mempersempit perspektif keagamaan dan sosial.
2. Literasi keagamaan digital
Tingginya konsumsi konten keagamaan menuntut kemampuan literasi agar anak muda mampu memilah informasi yang otoritatif, moderat, dan kontekstual.
Fenomena back to religion mencerminkan dinamika sosial yang kompleks di era digital. Didorong oleh krisis makna, tekanan hidup, serta kemudahan akses informasi, generasi muda Indonesia menunjukkan minat yang semakin kuat terhadap nilai-nilai spiritual. Tantangannya terletak pada bagaimana membangun religiusitas yang inklusif, moderat, dan berlandaskan literasi digital yang baik, sehingga agama benar-benar menjadi sumber kedamaian dan kemajuan sosial.




