Top
Begin typing your search above and press return to search.

Peringati Hari Pers Nasional 2026, simak jejak Bapak Pers Indonesia

Peringati Hari Pers Nasional, simak rekam jejak Bapak Pers Indonesia Tirto Adhi Soerjo, pelopor pers bumiputra dan pejuang kebebasan pers.

Peringati Hari Pers Nasional 2026, simak jejak Bapak Pers Indonesia
X

Mari kita mengenal sang Bapak Pers di Hari Pers Nasional, Tirto Adhi Soerjo.

Setiap tanggal 9 Februari, masyarakat memperingati Hari Pers Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap peran vital media sepanjang sejarah bangsa. Momen seperti ini menjadi waktu yang tepat untuk kita menilik kembali rekam jejak Bapak Pers Indonesia, Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo. Beliau memainkan peran penting sebagai peletak batu pertama pers pribumi yang menjadikan surat kabar sebagai alat perjuangan dan penyambung lidah rakyat di tengah tekanan kolonial.

Mengenal Tirto Adhi Soerjo

Lahir di Blora pada tahun 1880, Tirto Adhi Soerjo menempuh pendidikan di STOVIA (sekolah dokter untuk pribumi). Namun, panggilan jiwanya bukan di dunia medis, melainkan pada dunia menulis. Ia memilih meninggalkan studinya untuk terjun sepenuhnya ke bidang jurnalistik, keputusan yang nantinya akan mengubah wajah pergerakan nasional Indonesia.

Tirto dikenal sebagai jurnalis pertama yang menggunakan surat kabar sebagai sarana untuk membentuk opini publik dan mengorganisasi perlawanan terhadap ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda. Atas dedikasinya, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Bapak Pers Nasional melalui keputusan Dewan Pers pada tahun 1973.

Suara pertama rakyat jelata

Puncak rekam jejak Tirto Adhi Soerjo ditandai dengan berdirinya Medan Prijaji pada tahun 1907. Ini adalah surat kabar pertama yang dimiliki, dikelola, dan dicetak oleh orang Indonesia asli (pribumi) dengan menggunakan bahasa Melayu.

Fungsi advokasi

Berbeda dengan media kolonial saat itu, Medan Prijaji memiliki fungsi unik sebagai "kantor pengaduan" bagi rakyat. Tirto memberikan bantuan hukum dan ruang bagi warga yang tertindas oleh pejabat kolonial maupun penguasa lokal yang sewenang-wenang. Hal ini menjadikan pers saat itu selain sebagai media informasi, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan sosial.

Kekayaan ekonomi

Mengutip laporan dari National Geographic Indonesia, operasional Medan Prijaji didukung oleh perusahaan bernama NV Javaansche Boekhandel en Drukkerij en Handel in Schrijfbehoeften "Medan Prijaji". Tirto mengelola kekayaan dan modal usaha melalui sistem saham yang ditawarkan kepada para bangsawan dan saudagar pribumi. Hal ini membuktikan bahwa sejak awal abad ke-20, Tirto sudah memahami pentingnya kemandirian ekonomi agar sebuah media bisa tetap independen.

Perjuangan melalui tulisan

Rekam jejak beliau tidak berhenti pada meja redaksi. Tirto memahami bahwa pers membutuhkan sokongan organisasi yang kuat.

  • Sarekat Prijaji (1906): Organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan kaum pribumi.
  • Sarekat Dagang Islam (SDI): Tirto berperan penting dalam membidani lahirnya SDI di Bogor pada 1909, yang nantinya bertransformasi menjadi Sarekat Islam (SI), salah satu organisasi massa terbesar dalam sejarah pergerakan Indonesia.

Melalui tulisan-tulisannya, Tirto sering melontarkan kritik tajam yang membuatnya berulang kali berurusan dengan hukum kolonial (persdelict). Ia pernah dibuang (diasingkan) ke Teluk Betung, Lampung, dan kemudian ke Pulau Bacan, Maluku Utara, karena keberaniannya mengungkap skandal dan ketidakadilan.

Akhir hidup yang sunyi

Di balik pengaruh besarnya, kehidupan akhir Tirto diwarnai kesunyian dan keterpurukan. Tekanan politik, pembatasan aktivitas, serta persoalan ekonomi membuat hidupnya kian berat.

Tirto Adhi Soerjo wafat pada 7 Desember 1918 dalam kondisi yang memprihatinkan. Meski demikian, gagasan dan perjuangannya tetap hidup, menginspirasi generasi jurnalis setelahnya.

Pengakuan sebagai Bapak Pers & Pahlawan Nasional

Gelar Bapak Pers Nasional disematkan kepada Tirto Adhi Soerjo atas jasanya dalam merintis pers bumiputra dan meletakkan dasar jurnalisme modern di Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia secara resmi turut menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2006.

Penetapan ini menjadi bentuk pengakuan atas kontribusinya yang luar biasa terhadap kebebasan pers, kesadaran nasional, dan perjuangan kemerdekaan melalui jalur intelektual.

Warisan sang jurnalis

Peringatan Hari Pers Nasional merupakan momen penting untuk kita memahami bagaimana jurnalis muda mampu meneladani integritas Tirto Adhi Soerjo. Beliau mengajarkan bahwa pers harus memiliki keberpihakan pada kebenaran dan kemanusiaan.

Meskipun ia wafat dalam kesunyian, namanya abadi sebagai tokoh penting yang memicu kesadaran nasional melalui literasi. Kisah hidupnya juga menjadi inspirasi utama bagi sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam menciptakan karakter Minke pada tetralogi Buru.

Sumber : Elshinta.Com

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire