Top
Begin typing your search above and press return to search.

Ribuan warga Kudus semarakkan laku Banyu Penguripan

Bupati Kudus Jawa Tengah Sam’ani Intakoris melepas peserta Laku Banyu Penguripan yang menjadi rangkaian peringatan Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Sabtu malam (3/1).

Ribuan warga Kudus semarakkan laku Banyu Penguripan
X

Sumber foto: Sutini/elshinta.com.

Bupati Kudus Jawa Tengah Sam’ani Intakoris melepas peserta Laku Banyu Penguripan yang menjadi rangkaian peringatan Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Sabtu malam (3/1). Kegiatan diawali dari Pendapa Kabupaten Kudus dan berakhir di kawasan Menara Kudus. Meski sempat diwarnai gerimis namun acara tetap berjalan lancar karena saat mulai hujan reda.

Bupati menyebut, tradisi ini tidak hanya menjadi ritual budaya dan religi, tetapi juga memberi nilai tambah bagi daerah.

“Semoga kegiatan hari ini berjalan baik dan lancar, serta bisa menjadi kekuatan destinasi pariwisata dan budaya di Kabupaten Kudus,” lanjutnya.

Pemkab Kudus terus mendukung pelaksanaan tradisi Laku Banyu Penguripan yang telah digelar untuk kelima kalinya.

“Pemkab Kudus mengapresiasi dan mendukung kegiatan ini. Ini pelaksanaan yang kelima kali, kita uri-uri,” tegasnya.

Ketua Panitia Ta’sis ke-491 Masjid al-Aqsha Menara Kudus, Abdul Jalil menjelaskan bahwa prosesi ini dimaksudkan untuk menghayati kembali perjalanan spiritual Sunan Kudus dan para santrinya.

“Kita sedang memprosesikan situasi 491 tahun yang lalu, menghayati apa yang dilakukan oleh Sunan Kudus dan para santrinya. Pilihan kata laku, menggantikan kirab, menunjukkan bahwa lahirnya Kudus didasari oleh laku batin, tirakat, dan doa,” jelas Jalil.

Pihaknya menambahkan, air yang digunakan dalam prosesi berasal dari berbagai sumber, baik dari dalam maupun luar Kudus.

“Penggunaan air berasal dari 554 punden dan belik (sumber mata air) se-Kabupaten Kudus, ditambah air dari Wali Songo, Sultan Fatah, Ibrahim Asmorokondi, dan disempurnakan dengan air zamzam,” sebutnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Senin (5/1).

Jalil menyebut bahwa penggunaan obor bukan hanya pelengkap seremoni, tapi memiliki makna filosofis mendalam akan pengharapan Kudus yang lebih baik.

“Penggunaan obor didasarkan pada Al-Qur’an yang mengisahkan Nabi Musa yang mendapatkan petunjuk dari titik api, dengan harapan dari titik api atau obor yang dibawa peserta, Kudus yang lebih baik akan muncul,” pungkasnya.

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire