Tari Caping Kalo, penggambaran anggunnya perempuan Muria
Caping Kalo merupakan penutup kepala tradisional khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berbentuk lingkaran (bulat utuh) yang terbuat dari anyaman bambu halus dan daun rembuyan.

Sumber foto: Sutini/elshinta.com.
Sumber foto: Sutini/elshinta.com.
Caping Kalo merupakan penutup kepala tradisional khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berbentuk lingkaran (bulat utuh) yang terbuat dari anyaman bambu halus dan daun rembuyan. Dahulu digunakan petani untuk melindungi diri dari matahari, kini Caping Kalo berfungsi sebagai ikon budaya, pelengkap busana adat perempuan Kudus. Keberadaan Caping Kalo yang sudah mulai punah kembali digaungkan oleh berbagai pihak agar tetap lestari.
Salah satu Koreografer tari asal Yogyakarta Kinanti Sekar Rahina membuat karya spektakuler dalam bentuk tari. Ia akhirnya menuntaskan proses pengkaryaan tari yang bersumber dari Caping Kalo. Tari ini berjudul “Tari Caping Kalo”, yang diluncurkan pada Minggu, (/2) malam, di Kudus.
“Ini merupakan karya tari tunggal, yang menggambarkan sosok perempuan Muria yang anggun dan lincah, suka srawung dan setia menjaga nilai-nilai tradisi,” ungkap putri dari legenda pantomim Indonesia Jemek Sapardi.
“Apa yang menjadi tampak di dalam perwujudan Caping Kalo, buat saya merupakan simbol atas sosok itu. Ia menjalankan dan melakoni hidup dengan sebagaimana yang tergambar dalam Caping Kalo, antara lain: menjaga anyam-anyaman yang rapat dan halus itu dengan telaten, hidup rukun dan guyub bersama masyarakat. Kerangka bambu yang kokoh yang menggambarkan jiwa yang kuat dan setia menjaga nilai tradisi dan nurani, baik saat remaja, menjadi ibu di dalam rumah tangga maupun di pekerjaan. Dan ia menjunjung tinggi, di kepalanya, sebagaimana setiap orang beriman yang selalu menempatkan Tuhan di atas segalanya, tempat menaruh segala gelisah dan juga pengharapan,” lanjut Sekar.
Kinanti Sekar Rahina, telah menciptakan dua tarian yang bersumber dari Caping Kalo. Satu karya tari sebelumnya diberi judul “Tari Lajur Caping Kalo” yang telah diluncurkan pada 7 Oktober 2022. Perempuan yang telah malang melintang didunia tari ini tertarik dengan Caping Kalo dari tahun 2015 saat diperkenalkan oleh temannya.
Mengenai Tari Caping Kalo bisa jadi merupakan seguel dari Tari Lajur Caping Kalo sebagai perjalanan karya kreatif seorang Sekar. Namun kedua tarian ini bisa berdiri sendiri, karena masing-masing memiliki konsep dan kekuatan masing-masing. Tari Lajur Caping Kalo lebih menggambarkan secara filosofis bagaimana tahapan dan proses pembuatan Caping Kalo itu dilakukan. Bahwa tahapan dan proses pembuatan Caping Kalo pun memuat nilai tentang Dari memilih jenis bambu yang tidak asal tebang, membuat potongan-potongannya, ketekutan menganyam helai demi helai hingga terciptalah Caping Kalo.
“Bentuknya yang bulat melambangkan bahwa setiap manusia wajib berpasrah diri secara bulat dan utuh kepada Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa." - (lihat: teks dalam cindermata Desa Gulang).
Proses pembuatannya yang dimulai dari pemilihan bambu yang tidak asal tebang, rumitnya anyam-anyaman bambu namun halus yang tersusun selembut sifon furing, hingga fungsi Caping Kalo memiliki makna. Dalam Caping Kalo ada ketelatenan, sukacita dan syukur, kekuatan perempuan, semangat kebersamaan dalam masyarakat, dan persatuan yang kuat. Proses inilah yang dipilih menjadi lajur, yakni proses perjalanan kemenjadian sebuah Caping Kalo.
Sementara pada Tari Caping Kalo, mengisahkan dirinya secara utuh dalam pemahaman dan pemaknaan hidup sehari-hari.
Penciptaan karya tari melibatkan komposer musik Hamdani, syair dan lagu ditulis dan sekaligus dinyanyikan olch Romo Lukas Heri Pumawan MSF, Proses penulisan lirik dan rekaman lagunya dilakukan di Bucnos Asros, Argentina.
"Cukup lama saya menuliskan syair lagu untuk Tari Capng Kalo ini. Hidup di tengah budaya sini (Argentina), menjadi tantangan tersendiri. Cukup kesulitan untuk menemukan suasana Jawa,” kata Romo Ipeng, panggilan akrabnya.
“Melihat hasil akhir kemarin, apalagi sudah disatukan dengan musik, harapan saya semoga syair dan nyanyian dapat dinikmati dengan baik, menjadi bagian yang mendukung hadirnya para penari Caping Kalo, sehingga mempertajam pemahaman akan Caping Kalo", terangnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Sutini, Senin (9/2).




