Tiga atau empat bek, John Herdman?
Satu hari lagi debut John Herdman sebagai juru taktik baru timnas Indonesia bakal ditonton jutaan orang. Laga perdananya ini akan hadir pada ajang FIFA Series 2026 ketika Indonesia menjamu Saint Kitt dan Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat (27/3) malam.

Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Sumber foto: Antara/elshinta.com.
Satu hari lagi debut John Herdman sebagai juru taktik baru timnas Indonesia bakal ditonton jutaan orang. Laga perdananya ini akan hadir pada ajang FIFA Series 2026 ketika Indonesia menjamu Saint Kitt dan Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat (27/3) malam.
Sejak diumumkan menjadi pelatih kepala timnas Indonesia dua bulan lalu, pria berkebangsaan Inggris itu sudah bergerak cepat, mulai menyapa penggawa Garuda, menonton laga-laga di kompetisi lokal, hingga berkelana untuk memantau mereka yang berkarier di Eropa.
Dua bulan berlalu, perihal debutnya hanya menghitung mundur. Pertanyaannya, akan memakai formasi apa pelatih yang pernah mengantarkan timnas Kanada kembali berlaga di Piala Dunia 2022 setelah 36 tahun absen itu?
Memakai tiga bek atau empat bek, itu yang ada di kepala pencinta sepak bola Indonesia. Dua formasi ini menjadi pendekatan yang lekat di dua era pelatih Garuda sebelumnya, Shin Tae-yong (STY) dan Patrick Kluivert.
Kedua formasi ini memiliki perbedaan utama bagaimana sebuah tim menyerang dan bertahan. Biasanya, formasi tiga bek identik dengan pertahanan lebih rapat, yang cocok dengan permainan yang mengandalkan serangan balik.
Sementara dengan empat bek, sepak bola dengan penguasaan bola tinggi menjadi ciri khasnya, lebih stabil dalam menyerang dan bertahan.
Formasi empat bek disinyalir lebih gampang dipahami oleh pemain, termasuk mereka yang bermain di Eropa. Tetapi formasi ini juga terlihat kurang fit untuk para pemain Indonesia yang menonjol dalam hal kecepatan, namun relatif lemah dalam adu fisik.
Jika menilik perjalanan sebelumnya, formasi tiga bek mungkin cocok diterapkan untuk pemain Indonesia. Hal ini tak lepas dari permainan Indonesia di bawah asuhan STY, yang dengan formasi tiga bek di belakang, mampu bersaing di level Asia karena mencetak sejarah dengan lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 dan nyaris lolos ke Olimpiade 2024.
Namun, meski menghasilkan banyak prestasi, formasi ini juga tak lepas dari kritikan. Di luar sana, mereka menyebut sistem ini tak cocok, apalagi dengan banyaknya pemain-pemain Eropa yang membela Indonesia sekarang.
Pelatih yang adaptif
Herdman bukan sosok yang hanya terpaku pada satu sistem saja. Ia punya banyak taktik. Rencana permainannya bergantung pada siapa lawan yang akan dihadapi.
“Ia selalu tahu apa yang harus dilakukan dan memiliki taktik yang berbeda untuk setiap pertandingan,” kata Jonathan David, pemilik 37 gol untuk timnas Kanada yang kini membela Juventus.
Saat menangani timnas Kanada, misalnya, Herdman justru menargetkan timnya menjadi yang paling fleksibel di CONCACAF. Alih-alih terkunci dalam satu filosofi misalnya penguasaan bola, serangan balik cepat, atau pressing tinggi, Kanada malah tampil layaknya "bunglon" karena mampu menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan pertandingan.
Herdman kerap berpindah dari 3-4-2-1, 4-4-2, 3-5-2, hingga 4-2-3-1, bahkan berganti struktur di tengah laga. Transfermarkt mencatat, Herdman pernah menurunkan 10 formasi berbeda dari total 58 pertandingan yang ia pimpin yang berakhir dengan 36 kemenangan selama lima tahun di timnas Kanada.
Dari 4-1-4-1, 4-3-3, 4-2-3-1, 4-5-1, 4-4-2, 3-4-3, 3-5-2, hingga 5-4-1, semua pernah ia coba, semua bergantung pada kekuatan musuh yang dihadapi. Bahkan, dari laga melawan Amerika Serikat saja, dari enam pertemuan bersama Kanada, Herdman memakai lima formasi berbeda.
Pertemuan pertama dengan Amerika Serikat berakhir kemenangan 2-0 pada Oktober 2019 dengan formasi 4-2-3-1 dalam ajang Nations League, dengan Alphonso Davies sebagai penyerang sayap kiri dan David sebagai penyerang tengah.
Kemenangan yang sama terjadi pada Januari 2022 di Kualifikasi Piala Dunia 2022. Di laga ini, Herdman memakai formasi 4-4-2 diamond, saat Kanada tampil tanpa Davies yang sedang cedera.
Potensi tiga bek
Setelah mengumumkan 41 nama pada "Garuda Calling" pertama di era Herdman, kini tersisa 23 skuad final. Dia menyisihkan 18 nama tanpa pemusatan latihan (TC) terlebih dahulu. Nama-nama yang tersisih ini termasuk Miliano Jonathans yang cedera ACL dan Dean James yang dicoret baru-baru ini.
Komposisi 23 pemain final terdiri ataas 10 pemain yang bermain di kompetisi dalam negeri dan 13 pemain yang berkarier di luar negeri. Tak ada nama debutan di skuad Garuda kali ini. Dony Tri Pamungkas dan Cahya Supriadi sekilas menjadi nama anyar, namun keduanya telah memiliki caps bersama timnas senior di Kejuaraan ASEAN 2024, turnamen terakhir STY sebelum ia diganti Kluivert.
Dua anak hilang, Elkan Baggott dan Ezra Walian, yang sebelumnya masuk dalam 41 nama pertama, juga hanya nama pertama yang disertakan dalam skuad final. Ezra yang berpredikat sebagai pemain terbaik Indonesia di BRI Super League musim ini tak mampu memikat hati Herdman.
Padahal, Ezra sedang memasuki musim terbaiknya di Indonesia. Bersama Persik Kediri, pemain yang sudah empat tahun tak memiliki caps untuk Garuda itu menjadi pemain berdarah Indonesia tertinggi dalam jumlah gol (6) dan assist (9).
Jika melihat nama-nama dalam 23 pemain final ini, indikasi terkuat adalah kita akan melihat debut Herdman di FIFA Series memakai pakem tiga bek, 3-4-3 saat transisi positif (menyerang) dan 5-4-1 dalam transisi negatif (bertahan).
Enam bek tengah dipanggil Herdman. Mereka adalah Baggott, Jay Idzes, Justin Hubner, Kevin Diks, Rizky Ridho, dan Jordi Amat. Nama-nama ini mungkin akan membuat pencinta timnas Indonesia bernostalgia, bahwa mereka akan melihat lagi trio Ridho, Idzes, dan Hubner bermain bersama.
Tiga bek tengah ini akan menjadi benteng terakhir Indonesia sebelum lawan-lawan Garuda berhadapan dengan salah satu kiper yang nanti akan diturunkan, yaitu Maarten Paes, Emil Audero, Nadeo Argawinata, dan Cahya Supriadi.
Diks, yang hampir selalu bermain sebagai bek tengah bersama Borussia Moenchengladbach musim ini, bisa saja digeser sedikit melebar untuk mengisi posisi bek sayap kanan, yang vital dalam formasi ini karena menuntut mobilitas tinggi dalam membantu serangan dan juga pertahanan.
Di sisi kanan ini, pesaing Diks adalah Eliano Reijnders, Yakob Sayuri, dan juga Sandy Walsh. Bergeser ke area kiri, Calvin Verdonk diprediksi akan kembali menjadi andalan. Alternatif lain adalah Dony, yang musim ini tampil reguler bersama Persija Jakarta dengan 18 penampilan, hanya dua kali tak menjadi starter.
Tanpa adanya Thom Haye, sinyal Herdman akan bermain pragmatis semakin kuat. Pasalnya, tak ada pemain tengah yang bertipe kreatif yang dapat mengalirkan umpan-umpan progresif akurat, seperti gelandang milik Persib Bandung tersebut.
Semua pemain tengahnya bertipe gelandang bertahan atau nomor 6, termasuk Jordi, pemain yang aslinya sebagai bek tengah, namun kerap diminta pelatih Persija Mauricio Souza bermain sebagai gelandang bertahan musim ini.
Masalah ujung tombak, Ole Romeny akan tetap menjadi tumpuan. Striker Oxford United itu akan didukung oleh Beckham Putra dan Ragnar Oratmangoen, serta opsi lain dari pemain serbaguna, seperti Yakob dan Eliano.
Pada akhirnya, tiga bek atau empat bek, itu semua harus dibangun atas dasar kecocokan dengan kualitas pemain yang ada. Karena memaksakan sebuah sistem yang ada hanyalah akan mengurangi efektivitas permainan tim itu sendiri.
"Sebagai pelatih, Anda bekerja dengan fondasi yang sudah ada. Dan seperti yang saya katakan, struktur pertahanan yang dibangun oleh Shin Tae-yong sangat luar biasa. Patrick membawa gaya yang lebih ekspansif. Dan bagi saya, ini tentang membawa itu ke level berikutnya," kata Herdman dalam jumpa pers pra-pertandingan di SUGBK, Kamis siang, atau sehari sebelum pertandingan FIFA Series 2026.
Terlepas apapun formasi yang digunakan, yang terpenting adalah bagaimana tim asuhan Herdman dapat mengontrol permainan menghadapi siapa pun lawan-lawannya. Dengan mengontrol laga, sebuah tim akan merasakan dampak besar dari kualitas permainan yang ditampilkan, meski itu dengan sedikit penguasaan bola.
Satu hal pasti, suporter timnas Indonesia akan disajikan beragam model permainan selama Herdman ada di Indonesia, tanpa menghilangkan hal-hal baik yang sebelumnya sudah ada dari era STY dan Kluivert. Herdman menyebutnya sebagai "Garuda yang baru".




