Top
Begin typing your search above and press return to search.

Menuju pengakuan IOC, pencak silat ditantang tuntaskan PR besar

Menuju pengakuan IOC, pencak silat ditantang tuntaskan PR besar
X

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari dan Presiden Alliance of Independent Recognised Members of Sport (AIMS), Stephan Fox, di Jakarta, Januari 2026

Pencak silat dinilai memiliki peluang besar menempati posisi strategis dalam ekosistem olahraga dunia. Namun, peluang tersebut harus diiringi dengan penyelesaian berbagai pekerjaan rumah (PR) besar yang hingga kini masih menjadi tantangan serius.

Presiden Alliance of Independent Recognised Members of Sport (AIMS), Stephan Fox, menegaskan bahwa waktu tidak menunggu, dan pencak silat tidak boleh kehilangan momentum jika ingin melangkah lebih jauh di tingkat internasional.

“Pencak silat memiliki potensi yang luar biasa, tetapi juga banyak PR besar yang harus segera diselesaikan. Waktu terus berjalan, dan akan sangat disayangkan jika peluang ini tidak dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Stephan Fox, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Radio Elshinta, Sabtu (17/1/2026).

Stephan Fox yang juga merupakan praktisi seni bela diri ini mengaku memiliki kedekatan personal dengan pencak silat. Namun menurutnya, kecintaan saja tidak cukup tanpa langkah konkret dan terstruktur.

“Saya adalah praktisi bela diri dan saya sangat mencintai pencak silat. Ini adalah warisan budaya yang luar biasa sekaligus olahraga kompetitif yang menarik. Tapi untuk melangkah ke level dunia, dibutuhkan tata kelola, standar internasional, dan konsistensi,” tegasnya.

Stephan Fox menyoroti pentingnya kehadiran pencak silat dalam agenda World Combat Games 2027, sebagai bagian dari peta jalan menuju pengakuan global yang lebih kuat.

“Pencak silat sebagai seni bela diri harus sudah tampil di World Combat Games pada 2027. Itu adalah panggung penting bagi cabang-cabang bela diri dunia,” katanya.

Selain itu, ia menekankan bahwa pencak silat perlu memenuhi berbagai persyaratan organisasi internasional, mulai dari kepatuhan terhadap World Anti-Doping Agency (WADA), keanggotaan aktif di AIMS, hingga integrasi dengan organisasi bela diri internasional lainnya.

Dalam konteks multi-event, Stephan Fox mengapresiasi kehadiran pencak silat di ajang Islamic Solidarity Games (ISG) dan Asian Youth Games (AYG). Namun menurutnya, pencapaian tersebut harus menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh, bukan sekadar berhenti sebagai kebanggaan regional.

“Saya mengapresiasi pencak silat yang sudah tampil di Islamic Solidarity Games dan Asian Youth Games 2025. Tapi tantangannya adalah bagaimana menjadikan pencak silat konsisten hadir di level global,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia) Raja Sapta Oktohari menegaskan bahwa perhatian dan arahan langsung dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menjadi sinyal kuat bahwa pencak silat harus dikelola lebih serius dan profesional.

“Atensi langsung dari Presiden Republik Indonesia menjadi pengingat bahwa pencak silat memiliki tanggung jawab besar untuk berbenah. Masih banyak PR yang harus diselesaikan, dan ini harus dilakukan bersama,” ujar Okto.

Okto menambahkan bahwa NOC Indonesia berkomitmen mengawal pencak silat agar memenuhi standar internasional, baik dari sisi tata kelola, compliance, maupun diplomasi olahraga.

“Pengakuan internasional tidak datang secara instan. Diperlukan kepatuhan terhadap standar global, konsistensi organisasi, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. NOC Indonesia akan terus mengawal proses ini,” tegasnya.

Dengan dukungan pemerintah, mitra internasional, serta pengelolaan yang semakin profesional, pencak silat diharapkan tidak hanya bertahan sebagai identitas budaya, tetapi juga mampu bersaing dan diakui secara penuh di panggung olahraga dunia.

Dwi Iswanto/Ter

Sumber : Radio Elshinta

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire