Timnas Futsal Indonesia lawan Vietnam: Albagir fokus juara kolektif
Skuad Garuda fokus pada performa kolektif dan mendesak wasit optimalkan teknologi Video Support demi lindungi pemain dari permainan kasar.

Tim Nasional Futsal Indonesia bersiap menghadapi laga krusial di babak semifinal ASEAN Futsal Championship 2026. Berstatus juara Grup B, skuad Garuda akan menantang runner-up Grup A, Vietnam, di Nonthaburi Hall, Thailand, Jumat (10/4/2026).
Pelatih Kepala Timnas Futsal Indonesia, Héctor Souto, mengakui laga ini akan menjadi ujian berat. Ia menyoroti konsistensi skuad asuhan Diego Giustozzi yang memiliki kerangka tim solid sejak Agustus 2022.
"Lawan sangat solid karena mampu menjaga kerangka tim yang hampir sama sejak ajang AFC lalu. Namun, kematangan taktik dan mentalitas pemain kita yang ditempa di liga profesional menjadi modal utama," ujar Souto, dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).
Kapten sekaligus penjaga gawang andalan Indonesia, Muhammad Albagir, menegaskan bahwa seluruh pemain tidak terdistraksi oleh ambisi pribadi seperti gelar pemain terbaik (MVP) atau kiper terbaik.
"Mengejar trofi individu bukanlah target utama kami. Target pertama dan paling penting bagi kami saat ini adalah fokus memberikan performa bagus di setiap pertandingan demi tim," ungkap Albagir.
Kiper asal Blacksteel FC Papua ini menambahkan bahwa membawa pulang gelar juara ke Indonesia adalah prioritas kolektif yang mutlak.
Di sisi lain, Hector Souto melontarkan kritik keras terhadap kualitas kepemimpinan wasit selama turnamen. Ia menilai wasit sering membiarkan permainan berjalan terlalu agresif sehingga membahayakan keselamatan pemain, berkaca pada laga panas Thailand vs Vietnam sebelumnya.
"Wasit tidak melindungi pemain. Ini adalah hal terburuk yang bisa mereka lakukan. Jika kita memiliki alat penunjang seperti Video Support (VS), kita harus menggunakannya secara efektif," tegas pelatih asal Spanyol tersebut.
Souto mendesak Komite Wasit AFF dan AFC untuk lebih selektif dan melakukan analisis mendalam terhadap kepemimpinan di lapangan. Ia meminta agar teknologi VS benar-benar digunakan demi keadilan, bukan sekadar formalitas.
Candra Dinata/Rama




