Top
Begin typing your search above and press return to search.

Film ` Teman Tegar Maira` kisah persahabatan dalam penyelamatan hutan

Film ` Teman Tegar Maira` kisah persahabatan dalam penyelamatan hutan
X

Sejumlah pemain dan kru film "Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua” dalam konferensi pers gala premier di Jakarta, Selasa (27/1/2026) malam. ANTARA/Sri Dewi Larasati

“Alam ini kasih kita banyak. Tapi kita tidak boleh kasih apa-apa selain bersyukur untuk alam ini”, salah satu kalimat dialog yang mewakili cerita di film "Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua” membawa pesan pentingnya kesadaran manusia terhadap relasinya dengan alam.

Disutradarai Anggi Frisca, film anak ini memadukan unsur musikal dan petualangan melalui perjalanan Tegar (M Aldifi Tegarajasa), anak laki-laki dari Bandung yang ikut berlibur ke kampung halaman pengasuhnya, Teh Isy (Joan Wakum) di Papua.

Tegar mengunjungi Papua didorong keinginannya melihat keindahan burung Cendrawasih serta jejak cerita hutan yang pernah diceritakan mendiang kakeknya. Ia kemudian bertemu dengan Maira (Elisabet Sisauta), perempuan berusia 12 tahun yang merupakan masyarakat adat yang mengajaknya melihat burung Cendrawasih di rumahnya yang berada di atas menyusuri hutan.

Hubungan Tegar dan Maira itu kian menjadi persahabatan yang tidak hanya mengubah cara pandang mereka satu sama lain, tetapi juga membuka perspektif baru tentang kehidupan dan alam di sekitarnya. Namun, dalam perjalanan mereka yang bermula dari rasa ingin tahu pada burung Cendrawasih itu berubah menyadari bahwa hutan yang berada dalam bahaya.

Konflik kian memuncak ketika masyarakat adat di pedalaman tempat Maira tinggal ditipu oleh Bos Besar, pemilik perusahaan pembalakan untuk tambang. Maira yang menjadi satu-satunya yang bisa baca tulis di kampung halamannya itu berupaya menyelamatkan hutan dibantu bersama Tegar dan Teh Isy.

Menyuguhkan pesona alam luar biasa, namun juga menyimpan luka mendalam. Keindahan tersebut berjalan beriringan dengan ancaman krisis iklim, deforestasi, serta konflik perebutan lahan. Film berdurasi lebih dari 90 menit ini menyuguhkan pesona alam Papua yang luar biasa indah, namun juga menyimpan luka mendalam.

Keindahan tersebut berjalan beriringan dengan ancaman krisis iklim, deforestasi, serta konflik perebutan lahan. Meski terasa seperti mengangkat isu serius, film ini disajikan melalui formula film anak yang ringan sehingga ramah untuk semua kalangan usia. Produser film tersebut, dr. Chandra Sembiring menyebut film sebagai alat kampanye yang paling efektif dan berdaya ingat panjang.

Berangkat dari pengalaman panjangnya di wilayah konflik, bencana, hutan dan gunung-gunung, Chandra melihat bahwa masyarakat adat justru memiliki konsep resiliensi yang kuat, sesuatu yang sering terabaikan dalam narasi pembangunan modern.

“Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye dan benih gerakan,” ujar Chandra dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Film ini tidak memosisikan anak-anak sebagai korban, melainkan sebagai subjek yang punya suara, keberanian dan kemampuan untuk bertindak. Kedua anak itu saling mengisi cerita. Maira dengan pandangannya yang polos dan ceria, sedangkan Tegar yang lebih kalem dan reflektif.

M Aldifi Tegarajasa membawakan karakter Tegar dengan natural mengajarkan pentingnya mendengarkan dan datang tanpa merasa paling tahu. Rasa ingin tahu dan kesediaan mendengar membuka ruang yang tak bisa dibangun dengan ego. Tanpa dialog besar, Elisabeth memainkan peran Maira dengan apik, mengekspresikan kuat tanpa banyak suara, salah satunya adegan mengembalikan dokumen perusahaan menjadi penanda sikap berani yang sederhana, tulus, dan menggerakkan.

Film Teman Tegar Maira juga terletak pada pendekatan musikalnya, dengan memadukan dongeng, musik, dan lanskap alam sebagai satu kesatuan narasi.

Penyanyi dan aktris asal Papua Joan Wakum memerankan karakter utama Maira, sekaligus memimpin pengembangan musik film. Bersama musisi lokal dan nasional, ia menciptakan komposisi orisinal yang menggabungkan ritme tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik.

“Saya sangat berharap bahwa film ini bukan cuma sekedar film saja, lagu-lagu, apa yang ditunjukkan dalam visual di dalam film ini adalah kebanggaan kami anak-anak Papua. Ini tong punya tradisi yang akan kita bawa,” tutur Joan Wakum.

Adapun film anak “Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua” dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 5 Februari 2026.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire