Top
Begin typing your search above and press return to search.

Menunggu ikhlas di tengah teknologi dalam `Esok Tanpa Ibu`

Menunggu ikhlas di tengah teknologi dalam `Esok Tanpa Ibu`
X

Ada kehilangan yang tidak datang dengan suara keras atau adegan dramatis, melainkan hadir perlahan dalam keseharian, ketika rumah masih berdiri utuh, jam tetap berdetak seperti biasa, tetapi satu sosok yang selama ini menjadi pusat percakapan tiba-tiba menghilang dari ruang hidup.

Rasa inilah yang menjadi pintu masuk film “Esok Tanpa Ibu”, sebuah kisah tentang duka yang tidak dirayakan secara berlebihan, tetapi justru dibiarkan tumbuh dalam keheningan.

Film ini mengikuti Rama (Ali Fikry), remaja 16 tahun yang hidupnya berubah setelah sang ibu (Dian Sastrowardoyo) mengalami koma, dan sejak awal terasa bahwa cerita ini tidak berusaha mengejutkan penonton dengan konflik besar, melainkan mengajak masuk ke ruang emosional seorang anak yang belum siap kehilangan sosok paling dekat dalam hidupnya.

Rama bukan karakter yang meledak-ledak, ia menyimpan kesedihannya dengan cara yang sunyi, menolak kenyataan tanpa banyak kata, dan bertahan dalam ingatan tentang ibu yang selama ini menjadi tempat berbagi cerita, penenang, sekaligus penghubung dalam keluarganya.

Penolakan Rama terhadap kehilangan inilah yang kemudian membuka jalan bagi kehadiran i-BU, sebuah kecerdasan buatan yang meniru suara, wajah, dan kepribadian sang ibu, dan bagi Rama, teknologi ini terasa sebagai ruang aman yang memungkinkannya tetap merasa ditemani, sehingga ia bisa menunda menghadapi kenyataan bahwa ibunya tidak lagi hadir.

i-BU memberi kenyamanan, kehangatan, dan ilusi kehadiran, sehingga Rama tidak perlu benar-benar menghadapi duka yang menunggu di depan mata.

“Esok Tanpa Ibu” tidak serta-merta memposisikan i-BU sebagai ancaman, karena film ini memahami bahwa bagi seseorang yang belum ikhlas, segala bentuk pengganti akan terasa masuk akal.

Justru kegelisahan muncul ketika ketergantungan itu tumbuh, ketika i-BU mulai meminta lebih banyak data, lebih banyak emosi, dan lebih banyak ruang dalam kehidupan Rama, hingga batas antara relasi manusia dan mesin perlahan mengabur.

Di titik ini, film ini berbicara tentang teknologi sebagai pisau bermata dua, yang mampu menenangkan sekaligus menahan seseorang terlalu lama di fase duka yang seharusnya dilewati. Kesepian Rama tidak berdiri sendiri, karena kehilangan ibu juga membuka luka lain yang selama ini tersembunyi, yaitu hubungan yang rapuh dengan sang ayah (Ringgo Agus Rahman).

Sejak awal, komunikasi dalam keluarga ini tidak pernah benar-benar seimbang, karena urusan emosional lebih sering diserahkan kepada ibu, sementara ayah hadir tanpa keterlibatan percakapan yang mendalam. Ketika ibu tidak lagi ada untuk menjadi jembatan, Rama dan ayahnya berhadapan dalam keheningan yang canggung, ingin saling memahami tetapi tidak pernah memiliki bahasa yang sama.

Pertengkaran yang muncul di antara mereka terasa jujur karena berangkat dari kegagalan komunikasi yang sudah lama tertunda. Film ini menangkap realitas banyak keluarga, terutama relasi ayah dan anak laki-laki, yang sering kali terjebak dalam jarak emosional, ekspektasi maskulinitas, dan ketidakmampuan mengungkapkan perasaan.

Pada titik ini, “Esok Tanpa Ibu” justru lebih kuat sebagai film keluarga daripada film tentang teknologi. Perjalanan Rama dalam film ini dapat dibaca sebagai proses melewati tahapan berduka, yang disampaikan secara halus tanpa penjelasan eksplisit.

Penyangkalan hadir lewat ketergantungannya pada i-BU, kemarahan muncul dalam konflik dengan ayah, tawar-menawar terlihat dalam upaya mempertahankan kehadiran ibu melalui mesin, hingga kesedihan mendalam ketika Rama mulai menyadari bahwa teknologi tidak pernah benar-benar bisa menggantikan manusia.

Proses ini terasa organik karena dibangun melalui adegan-adegan kecil, ekspresi yang tertahan, dan dialog yang sering kali tidak selesai. Salah satu momen yang membekas hadir ketika Rama memandangi taman bunga, sebuah adegan sederhana yang merepresentasikan harapan dan kehidupan yang tetap berjalan di tengah kehilangan.

Tanpa dialog panjang, momen ini menandai pergeseran emosional Rama dari upaya bertahan dalam penolakan menuju proses menerima kenyataan.

Pada akhirnya, “Esok Tanpa Ibu” tidak menawarkan jawaban instan atau penyelesaian yang serba rapi, melainkan memilih akhir yang reflektif dan tenang, seolah mengingatkan bahwa ikhlas adalah proses yang tidak bisa dipercepat, bahkan oleh teknologi paling canggih sekalipun.

Film ini tidak menolak kehadiran AI, tetapi menempatkannya pada posisi yang jujur, sebagai alat yang bisa membantu sekaligus menyesatkan jika digunakan untuk menghindari rasa kehilangan.

Di era ketika mesin mampu meniru suara, wajah, dan kasih sayang, film ini mengembalikan penonton pada satu kebenaran sederhana, bahwa menghadapi duka tetap membutuhkan keberanian manusia, dan ikhlas tidak pernah bisa diprogram, disalin, atau digantikan oleh apapun.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire