Top
Begin typing your search above and press return to search.

Film “Pelangi di Mars” sapa publik lewat balon raksasa

Film fiksi ilmiah keluarga Indonesia “Pelangi di Mars” menyapa publik melalui balon karakter Pelangi dan Batik setinggi 10 meter yang kini hadir di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan.

Film “Pelangi di Mars” sapa publik lewat balon raksasa
X

Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Film fiksi ilmiah keluarga Indonesia “Pelangi di Mars” menyapa publik melalui balon karakter Pelangi dan Batik setinggi 10 meter yang kini hadir di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta Selatan.

Produser film Dendi Reynando mengatakan bahwa kehadiran balon raksasa di ruang publik untuk memperkenalkan intellectual property (IP) lokal “Pelangi di Mars” semakin dikenal masyarakat Indonesia.

Menurut dia masih minimnya kehadiran IP Indonesia di ruang-ruang yang mudah diakses anak-anak.

“Jadi semakin sering terpapar, semakin bagus. Mudah-mudahan ini sebagai simbol dari IP Indonesia bisa compete dengan IP dari negara manapun karena memang semestinya kita udah jadi tuan rumah untuk IP kita sendiri,” kata Dendi Reynando dalam konferensi pers peluncuran balon raksasa “Pelangi di Mars” di Jakarta, Kamis.

Instalasi balon raksasa “Pelangi di Mars” itu berdiri di ruang terbuka kawasan perkantoran, di mana film tersebut didukung oleh Kementerian Ekonomi Kreatif dan Artha Graha Peduli bersama SCBD, SCBD Park, dan Creative Event Entertainment (CEE).

Keterlibatan tersebut menghadirkan ruang publik bagi karya anak bangsa sekaligus mencerminkan sinergi antara dunia usaha dan industri kreatif.

Kolaborasi semacam ini dinilai menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat ekosistem industri kreatif nasional serta meningkatkan daya saingnya di tingkat global.

Sinergi tersebut, menurut Dendi, menjadi bagian penting dalam pengembangan jangka panjang film ini. Tim produksi membangun dunia cerita dan karakter “Pelangi di Mars” secara terstruktur agar dapat berkembang melampaui satu judul film.

“Kami ingin ini tidak berhenti di satu karya. Pelangi di Mars kami siapkan sebagai IP lokal yang bisa tumbuh berkelanjutan,” tutur Dendi.

Sutradara Upie Guava mengungkapkan pembuatan film terbarunya “Pelangi di Mars” didorong rasa ingin menghadirkan tontonan yang dapat memantik imajinasi dan cita-cita yang dapat menginspirasi anak-anak Indonesia.

“Pendapat saya mungkin subjektif. Saya punya anak dan melihat sepertinya Indonesia kurang literasi yang memantik seorang anak pingin jadi bermanfaat, misal jadi astronaut apa pun itu. Film ‘Pelangi di Mars’ ini dibuat hanya dengan alasan itu dan mudah-mudahan ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tutur Upie.

Balon tersebut menjadi sapaan awal dari film “Pelangi di Mars” kepada masyarakat yang dapat dinikmati publik di area SCBD mulai 19 Februari hingga 22 Februari sebelum melanjutkan perjalanannya ke lokasi berikutnya.

Setelah Jakarta, balon Pelangi di Mars juga dijadwalkan berkeliling ke lima lokasi lain, baik di dalam maupun luar kota, sebagai bagian dari rangkaian promosi menuju penayangan film.

Film “Pelangi di Mars” mengisahkan di tahun 2100, ketika krisis air mengancam masa depan Bumi, Pelangi anak pertama yang lahir di Mars memulai sebuah petualangan bersama robot-robot malfunction untuk menemukan Zeolit Omega, mineral langka yang dipercaya dapat menyelamatkan masa depan Bumi.

Namun dalam perjalanannya, Nerotek korporasi raksasa yang menguasai sumber air melakukan segala cara untuk merebut penemuan tersebut.

Di tengah misi tersebut, film ini menghadirkan petualangan yang sarat pesan tentang keberanian, persahabatan, dan harapan melalui animasi 3D dan teknologi XR.

Film ini dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata, dengan dukungan pengisi suara Kristo Immanuel, Bimoky, Gilang Dirga, Vanya Rivani, serta Dimitri Arditya.

“Pelangi di Mars” dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada momen Lebaran 2026.

Sumber : Antara

Related Stories
Next Story
All Rights Reserved. Copyright @2019
Powered By Hocalwire